Tekan Enter untuk mencari

Sabtu, 12 September 2026

Kaltim Masuki Puncak Musim Kemarau: HTH Capai 18 Hari, Waduk Surut dan Hotspot Bermunculan

Redaksi
Diterbitkan Rabu, 19 Agustus 2026 07:22 WITA
Ilustrasi kekeringan. Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memasuki periode puncak musim kemarau.
Ilustrasi kekeringan. Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memasuki periode puncak musim kemarau.

SAMARINDA – Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memasuki periode puncak musim kemarau.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi kekeringan, kemunculan titik panas (hotspot), serta penurunan kualitas udara akibat nihilnya curah hujan dalam durasi yang cukup panjang.

Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda, Rahman, menjelaskan bahwa pertengahan bulan Agustus menjadi titik puncak kemarau bagi Kota Samarinda dan wilayah Kaltim pada umumnya.

“Bulan Agustus untuk Samarinda dan beberapa wilayah di Kalimantan Timur merupakan puncaknya. Kalau ditanya soal kapan puncaknya, puncaknya ini di pertengahan Agustus ini,” kata Rahman, dilansir dari Kompas.com.

Berdasarkan pembaruan data BMKG per 10 Agustus 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah Kaltim berada pada kategori sangat rendah (di bawah 50 milimeter per bulan).

Catatan Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang di Kaltim bahkan telah menembus angka 18 hari, sementara Kota Samarinda sendiri mencatatkan HTH lebih dari 10 hari berturut-turut.

Untuk tiga hingga 10 hari ke depan, potensi hujan diperkirakan sangat minim dengan intensitas yang tergolong amat rendah.

“Seandainya ada hujan, kategorinya rendah sekali. Bisa jadi hujannya cuma ada sebentar saja, terus habis itu panas lagi,” ujar Rahman.

Debit Air Waduk Surut dan Hotspot Berau-Kutim

Memasuki puncak kemarau, dampak siklus hidrologi mulai dirasakan langsung di lapangan.

Minimnya hujan membuat debit air pada sejumlah bendungan dan waduk penampungan air di Samarinda dan sekitarnya terpantau terus menyusut.

Selain itu, BMKG mendeteksi adanya peningkatkan titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi, khususnya di wilayah Kabupaten Berau dan Kutai Timur.

Kendati demikian, sejauh ini belum terdeteksi adanya sebaran asap karhutla yang mengganggu jarak pandang.

Namun, BMKG mengingatkan bahwa semakin panjang HTH, kemampuan alami atmosfer untuk membersihkan polutan dari kendaraan dan industri akan menurun, sehingga kualitas udara berpotensi memburuk.

Imbauan BMKG

Menghadapi potensi kekeringan yang masih akan berlangsung, BMKG mengimbau masyarakat Kaltim untuk segera melakukan langkah antisipasi mandiri, di antaranya:

Mulai mempersiapkan serta menghemat cadangan air bersih guna mengantisipasi kelangkaan air yang lebih parah.

Tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan sekecil apa pun, terutama di daerah rawan seperti Berau dan Kutai Timur.

Dan, mengikuti pembaharuan (update) informasi cuaca dan indeks kualitas udara secara berkala melalui kanal resmi BMKG. (*)

Bagikan
berita terkait
Populer

Belum ada data populer minggu ini.