Tekan Enter untuk mencari

Sabtu, 12 September 2026

Iran Pastikan Tidak akan Berhenti Perang Hingga Trump Lengser

Redaksi
Diterbitkan Kamis, 13 Agustus 2026 11:25 WITA
Ilustrasi: Perang AS vs Iran
Ilustrasi: Perang AS vs Iran

TEHERAN – Penasihat Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Mohammad Reza Naqdi, menegaskan bahwa Teheran siap memperpanjang perang melawan Amerika Serikat (AS) hingga Presiden Donald Trump tidak lagi menjabat di Gedung Putih.

Dalam wawancaranya bersama PBS yang dikutip oleh CNN, Naqdi menyebut strategi perang jangka panjang ini ditujukan untuk menciptakan daya tangkal mutlak agar AS maupun negara lainnya tidak berani menyerang Iran di masa depan.

Menurutnya, menguras energi serta kekuatan lawan akan membuktikan bahwa setiap agresi militer ke wilayah Iran memiliki konsekuensi harga yang sangat mahal.

“Kita harus mencapai daya tangkal agar musuh tidak pernah berani menyerang kita, sehingga kita bisa hidup dengan aman,” ujar Mohammad Reza Naqdi, Rabu (12/8/2026).

Pernyataan keras ini dilontarkan di tengah jalan buntu perundingan damai antara AS dan Iran.

Meski Pakistan yang bertindak sebagai mediator sempat mengumumkan adanya perpanjangan gencatan senjata pada Rabu (12/8/2026), pihak Teheran secara tegas membantah klaim tersebut.

Iran menegaskan akan tetap menutup jalur pelayaran vital Selat Hormuz hingga seluruh tuntutannya dipenuhi oleh pemerintah AS.

Dalam kesempatan yang sama, Naqdi mengklaim bahwa posisi Iran saat ini berada di atas angin lantaran dinilai berhasil mengendalikan situasi di lapangan.

Ia menyindir pemerintah AS di bawah kepemimpinan Donald Trump yang dianggap menjalankan perang tanpa arah dan strategi yang konsisten.

“Tentu saja, kemenangan ada di pihak kami,” jawab Naqdi.

“Washington sedang menjalankan perang tanpa strategi. Setiap dua atau tiga hari, mereka mengumumkan tujuan baru, termasuk invasi ke Pulau Kharg dan pembukaan kembali Selat Hormuz,” lanjutnya.

Mengenai ketersediaan alutsista, Naqdi menegaskan bahwa laju produksi rudal Iran saat ini jauh lebih cepat dibandingkan jumlah yang diluncurkan setiap harinya.

Ia bahkan melayangkan gertakan bahwa Iran akan menjadi ancaman yang jauh lebih membahayakan bagi AS jika stok rudalnya habis, sebab ribuan aset serta kepentingan ekonomi AS yang tersebar di berbagai belahan dunia sangat rentan untuk dihancurkan.

Naqdi turut menilai kemampuan tempur militer AS tidak sekuat yang dibayangkan dunia selama ini.

Ia mengungkapkan, kecamuk perang yang berlangsung sejak 28 Februari lalu justru menjadi ladang pengalaman berharga bagi angkatan bersenjata Iran untuk memetakan kelemahan serta cara menaklukkan pasukan AS.

“Semakin lama perang ini berlangsung, semakin banyak pengalaman yang kami peroleh. Kami belum pernah melihat perang nyata untuk mendapatkan pengalaman sesungguhnya dalam mempelajari cara bertempur melawan Amerika. Dalam lima bulan ini, kami telah mempelajarinya,” tambah Naqdi.

“Kami juga melihat bahwa militer Amerika ternyata lebih lemah daripada yang kami bayangkan sebelumnya.”

Menutup keterangannya, penasihat senior IRGC tersebut juga memberikan ketegasan terkait aksi pencegatan kapal-kapal kargo di Selat Hormuz.

Pihaknya memperingatkan bahwa kapal mana pun yang melintasi wilayah perairan di luar kendali dan izin otoritas Iran akan dikategorikan sebagai pengangkut pasokan untuk pihak musuh, sehingga sah untuk dijadikan sasaran serangan militer. (*)

Bagikan
berita terkait
Populer

Belum ada data populer minggu ini.