TANGERANG – Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap jurnalis dan awak kapal resmi dihentikan, memicu tangis dan suasana haru dalam doa bersama yang digelar ratusan warga serta insan pers di kediaman Firdaus Wajidi, Perumahan Griya Ciledug, Tangerang, Kamis (17/9/2026) malam.
Walaupun upaya pencarian fisik di lapangan telah usai setelah masa perpanjangan berakhir, pihak keluarga dan rekan sejawat pria yang akrab disapa Daus itu menegaskan doa serta harapan mereka tidak pernah terputus.
Sejak pukul 19.45 WIB, gelombang kepedulian terus berdatangan dari berbagai pihak yang memadati lokasi acara.
Banyaknya pelayat yang hadir membuat jajaran kursi tak mencukupi, sehingga warga dan para wartawan rela duduk lesehan di sepanjang jalan kompleks hingga berdiri mengular di halaman rumah-rumah tetangga sekitar.
Susunan acara dibuka secara tertib, disusul penyampaian sambutan dari pihak keluarga serta rekan kerja, lalu dipuncak dengan pembacaan doa bersama.
Ketenangan seketika menyelimuti area tatkala doa dimulakan; seluruh hadirin menundukkan kepala penuh kepasrahan.
Di tengah keheningan tersebut, beberapa warga tak sanggup menahan rasa sedih dan berulang kali mengusap air mata.
Tepat di area depan pintu utama kediamannya, istri dari Daus tampak duduk khusyuk memanjatkan permohonan.
Tangan kanannya mengepal di bawah dagu sembari menggenggam selembar tisu, yang sesekali digunakannya untuk menyeka air mata yang menetes di pipinya.
Dicky, yang merupakan kerabat dekat, tetangga, sekaligus rekan sesama jurnalis, menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan moral dan kehadiran khalayak untuk mendoakan Daus.
Bagi Dicky, figur Daus bukan sebatas rekan profesi, melainkan sudah seperti bagian dari keluarga kandung sendiri.
“Ketidakhadiran Firdaus adalah kehilangan yang sangat besar bagi kami, juga bagi organisasi. Selama ini kontribusinya luar biasa besar untuk kami semua, bantuan dan ringan tangannya,” ujar Dicky dalam sambutannya dengan suara bergetar sebelum akhirnya menghentikan sambutannya karena tak sanggup menahan kesedihan.
Lebih jauh, Dicky mengungkapkan bahwa walau keluarga serta rekan seprofesi berupaya menerima segala ketetapan dengan lapang dada, keyakinan akan munculnya keajaiban tetap tersimpan rapat di dalam dada mereka.
Pernyataan senada diutarakannya oleh kakak ipar Daus, Berno, yang turut membeberkan fakta mengenai perkembangan operasi pencarian resmi yang berlangsung di perairan Selat Sunda.
“Informasi terkini terkait pencarian, ini pencarian terakhir walaupun sebelumnya sudah diperpanjang, dan hasilnya sejauh ini masih nihil. Tapi tentu kita terus berharap dengan keajaiban dari Allah SWT,” tutur Berno saat memberi sambutan.
Kendati pergerakan tim SAR di Selat Sunda diakhiri per Kamis (17/9/2026), keteguhan mental, memori akan kebaikan almarhum, serta untaian doa dari keluarga besar dan komunitas pers akan terus mengalir untuk Daus.
Peristiwa ini bermula saat kapal cepat Arupadhatu 1 yang mengangkut rombongan pers dilaporkan hilang kontak di Selat Sunda, wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten.
Kapal tersebut berlayar meninggalkan Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB untuk keperluan peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Catatan dari Basarnas Banten merinci bahwa kapal tersebut membawa total delapan penumpang, yang terdiri dari lima jurnalis dan tiga anak buah kapal (ABK).
Salah satu wartawan yang berada dalam rombongan naas tersebut adalah Firdaus Wajidi alias Daus, yang berstatus sebagai jurnalis freelance Anadolu Agency. (*)





