Tekan Enter untuk mencari

Selasa, 27 Oktober 2026

BPBD Kaltim Catat 1.470 Kejadian Karhutla, Luas Lahan Terbakar Tembus 6.333 Hektare

Redaksi
Diterbitkan Jumat, 25 September 2026 09:05 WITA
Karhutla di Samarinda, Kalimantan Timur (kompas)
Karhutla di Samarinda, Kalimantan Timur (kompas)

SAMARINDA – Maraknya musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) terus mendapat perhatian serius.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kaltim mencatat akumulasi 1.470 insiden kebakaran telah melanda daerah tersebut sepanjang tahun 2026, dengan total luas areal yang hangus mencapai 6.333 hektare.

Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi menggarisbawahi bahwa fenomena El Nino yang memicu musim kemarau panjang menjadi faktor utama meningkatnya risiko kerawanan karhutla di lapangan.

“Kalau kita lihat, sampai dengan kemarin sudah mencapai 1.470 titik kejadian kebakaran, bukan lagi hotspot. Luasannya mencapai 6.333 hektare,” terang Buyung pada Selasa (22/8/2026).

Kukar Jadi Daerah Terluas Terdampak Karhutla

Berdasarkan pemetaan geografis BPBD Kaltim, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi daerah dengan dampak kebakaran paling parah, yakni mencakup areal seluas 2.026,02 hektare dari 263 peristiwa kebakaran.

Posisi berikutnya disusul oleh Kabupaten Kutai Barat yang mencatatkan luasan terbakar sekitar 1.126,76 hektare dari 154 kejadian.

Sementara itu, Kabupaten Paser mengidentifikasi 364 kejadian kebakaran dengan cakupan area 1.105,75 hektare, diikuti Kabupaten Berau yang mencatat 165 insiden dengan luas terdampak sekitar 820,31 hektare.

Dari segi klasifikasi lahan yang hangus dilalap api, akumulasi data menunjukkan bahwa kawasan non-hutan mendominasi kejadian tersebut.

Dari rincian area terbakar seluas 6.276,20 hektare, kategori lahan terbuka/semak mencakup 4.511,50 hektare, kawasan hutan membentang sekitar 1.726,20 hektare, serta area perkebunan seluas 38,50 hektare.

Menurut Buyung, kondisi cuaca ekstrem yang dipicu El Nino membuat vegetasi bawah sangat rentan tersulut api.

“Kondisi kemarau dengan El Nino menyebabkan vegetasi di bawah menjadi sangat kering sehingga mudah terbakar. Dampaknya bukan hanya kebakaran, tetapi juga muncul gangguan asap dan ancaman terhadap sektor pertanian,” ungkapnya.

Lonjakan Hotspot

Kecenderungan peningkatan eskalasi karhutla terekam makin signifikan memasuki bulan September 2026.

Pantauan data hingga 20 September mencatat kehadiran 25.576 titik panas (hotspot).

Dari total tersebut, kategori hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi mencapai 1.270 titik, kategori menengah sebanyak 22.622 titik, serta kategori rendah berjumlah 1.684 titik.

Adapun frekuensi kejadian kebakaran sejak awal tahun hingga September mencapai 1.451 kali.

BPBD Kaltim mengingatkan bahwa imbas karhutla tidak hanya sebatas kerusakan fisik lahan, melainkan turut memicu penurunan kualitas udara akibat akumulasi kabut asap di atmosfer.

“Dampak asap ini multidimensi. Tidak hanya mengganggu kesehatan masyarakat, tetapi juga dapat mengganggu penerbangan, aktivitas pendidikan, dan kegiatan ekonomi masyarakat,” tegas Buyung. (*)

Bagikan
berita terkait