Tekan Enter untuk mencari

Sabtu, 30 Mei 2026

KNKT: Pesawat ATR 42-500 Keluar Jalur Saat Mendarat hingga Menabrak Gunung Bulusaraung

Redaksi
Diterbitkan Rabu, 21 Januari 2026 09:00 WITA
Roda pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT)
Roda pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT)

MAROS – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan bahwa kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) terjadi akibat pesawat keluar dari jalur pendaratan yang telah ditetapkan saat hendak mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan.

Pesawat yang seharusnya mengikuti jalur menuju runway 21 justru terus melenceng hingga akhirnya menabrak Gunung Bulusaraung.

Hal tersebut disampaikan Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan prosedur Standard Terminal Arrival Route (STAR), pesawat seharusnya memulai proses approach dari titik Araja, kemudian menuju Openg, dan terakhir Kabip sebelum melakukan pendaratan.

“Pesawat seharusnya menuju titik Araja, tetapi terlewat. Ketika diminta mengarah ke Openg, pesawat juga tidak menuju ke titik tersebut,” ujar Soerjanto.

Karena dua titik awal terlewati, pesawat kemudian diarahkan menuju titik terakhir, Kabip, agar dapat memotong jalur Instrument Landing System (ILS) untuk mengaktifkan sistem pendaratan otomatis.

Namun, pesawat tetap melanjutkan penerbangan di luar jalur yang semestinya.

“ATC sempat menanyakan apakah pesawat berbelok ke kanan dengan heading 245 agar bisa memotong ILS. Namun sebelum itu terjadi, pesawat sudah lebih dulu menabrak gunung,” jelas Soerjanto.

KNKT mengaku hingga kini masih mendalami penyebab pesawat tidak mengikuti jalur yang telah ditetapkan, termasuk faktor teknis maupun operasional.

Sementara itu, upaya pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT terus dilakukan oleh Tim SAR gabungan di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep.

Hingga Selasa malam, dua dari total 10 orang di dalam pesawat berhasil dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar sekaligus SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, mengatakan medan ekstrem dan cuaca buruk menjadi tantangan utama dalam proses evakuasi.

Posisi korban berada di tebing curam dan jurang dengan kedalaman ratusan meter.

“Korban pertama ditemukan di bibir jurang pada ketinggian 1.353 meter di atas permukaan laut. Proses evakuasi dilakukan dengan teknik rappelling menggunakan tali sepanjang sekitar 100 meter,” ujarnya.

Evakuasi korban kedua yang berjenis kelamin perempuan dilakukan dari kedalaman sekitar 350 meter dan melibatkan lebih dari seribu personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, serta relawan.

Seluruh jenazah yang berhasil dievakuasi langsung dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri.

Pesawat ATR 42-500 tersebut mengangkut tujuh kru dan tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar sebelum akhirnya hilang kontak dan jatuh pada Sabtu (17/1/2026).

Operasi SAR saat ini dibagi ke dalam beberapa Search and Rescue Unit (SRU) yang fokus pada penyisiran darat dan vertical rescue.

Selain itu, tim juga mengerahkan drone thermal serta helikopter untuk menjangkau area sulit di lereng Gunung Bulusaraung.

“Kami terus berupaya menemukan seluruh korban dengan tetap mengutamakan keselamatan tim di lapangan,” tutup Arif Anwar. (*)

Bagikan
berita terkait