JAWA TENGAH – Hendro, warga binaan asal Banjarnegara, Jawa Tengah, mengaku sempat diliputi rasa takut saat mendengar dirinya akan dipindahkan ke Pulau Nusakambangan.
Bayangan tentang pulau yang identik dengan penjara berisiko tinggi dan eksekusi mati membuatnya bergidik.
Kepindahan dari Lapas Banjarnegara ke Nusakambangan sempat menimbulkan kepanikan di keluarganya.
Istri Hendro menjerit, anggota keluarga menangis, terlebih setelah mendengar berbagai cerita menyeramkan yang selama ini melekat pada nama Nusakambangan.
“Ya karena kan tempat eksekusi juga di sini, tempat eksekusi dan image-nya orang-orang luar (itu), Nusakambangan serem,” kata Hendro saat ditemui di sela-sela kegiatan Lapas Terbuka Nusakambangan, Senin (9/2/2026), dilansir dari Kompas.com.
Namun, anggapan tersebut perlahan runtuh setelah Hendro benar-benar menginjakkan kaki di Nusakambangan.
Alih-alih suasana mencekam, ia justru menemukan lingkungan pembinaan yang produktif dan jauh dari cerita horor.
Pandangan Hendro tentang Nusakambangan berubah total.
Di sana, ia tidak disuguhi kisah kelam, melainkan dibekali keterampilan beternak bebek petelur secara profesional.
Hendro menjadi salah satu dari empat warga binaan yang dipercaya mengelola peternakan bebek seluas satu hektare di Lapas Terbuka Nusakambangan.
Sebanyak 3.368 ekor bebek mereka rawat, dengan hasil produksi mencapai 180 hingga 200 butir telur per hari.
Para warga binaan tidak bekerja tanpa upah.
Setiap orang menerima premi sebesar Rp 150.000 per bulan.
Beragam aktivitas pembinaan membuat Hendro merasa betah menjalani masa hukuman.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kenyamanan tersebut tidak mengalahkan kerinduannya untuk kembali ke keluarga.
Hendro dijadwalkan bebas pada Juni 2026.
“Saya sudah merasa nyaman di sini, cuman senyaman-nyamannya di sini lebih nyaman kalau kita kumpul dengan keluarga,” imbuhnya.
Ilmu beternak yang didapat selama menjalani pembinaan di Nusakambangan menjadi bekal berharga bagi Hendro.
Mantan tukang kayu ini bertekad menerapkan keterampilan tersebut setelah kembali ke kampung halaman.
“Saya (sebelumnya) belum pernah ternak ini (bebek), pengalaman dari sini (Nusakambangan) nanti di rumah akan kita coba untuk ternak bebek,” ucapnya.
Selain peternakan bebek, Lapas Terbuka Nusakambangan juga memiliki berbagai program pembinaan lain yang berfokus pada ketahanan pangan.
Terdapat lahan pertanian padi seluas 7,1 hektare yang dikelola lima warga binaan dengan premi Rp 600.000 per orang, serta pertanian jagung seluas 3,7 hektare yang dikerjakan empat warga binaan dengan nilai premi serupa.
Program lain meliputi hortikultura terong, ubi jalar, kangkung, okra, dan singkong yang dikelola secara mandiri oleh warga binaan.
Selain itu, terdapat peternakan ayam petelur yang menghasilkan sekitar 3.500 butir telur per hari dengan melibatkan lima warga binaan, serta peternakan sapi berjumlah 57 ekor yang dikelola empat warga binaan.
Berbagai program tersebut menjadi upaya pembinaan agar para warga binaan memiliki keterampilan dan harapan baru saat kembali ke masyarakat. (*)





