Waduk Benanga Sempat di Level Awas,Pemkot Samarinda Berikan Status Siaga

23 May 2020, 23:50

SAMARINDA, analisanews.co – Banjir kembali menghantui Kota Tepian. Bahkan ancaman tak memandang momen pandemi covid-19 dan menjelang Hari Raya Idulfitri 1441 H. Banjir kali ini melanda di empat titik Kecamatan. Di antaranya Samarinda Utara, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda Ulu, dan Palaran.

Air meluap akibat hujan intensitas tinggi yang terjadi pada Jumat, 22 Mei 2020. Waduk Benanga yang kini telah berusia 42 tahun nampak kepayahan menampung air dari hulu.

Bendungan irigasi seluas 150 hektare yang terletak di Lempake, Samarinda Utara tersebut, sempat dalam kondisi yan mengkhawatirkan pada Sabtu siang, 23 Mei 2020.

Pasalnya, tinggi muka air (TMA) sudah menyentuh diangka 110 sentimeter. Dari ketinggian tersebut, Waduk Benanga telah memasuki level merah atau berstatus awas.

Sedikit informasi mengenai pintu air Waduk Benanga. TMA ada tiga ukuran yang ditandai tiga warna yakni hijau, kuning, dan merah. Tiap-tiap warna menentukan langkah yang harus diambil. Hijau untuk waspada, kuning artinya siaga, dan merah adalah awas.

Untuk level TMA kali ini, disebut yang tertinggi. Bahkan serupa dengan yang terjadi pada tahun 1998 lalu. Hingga mengakibatkan waduk jebol. Kendati demikian, Manajer Pusat Data dan Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda Ifran menegaskan, Bendungan Lempake dipastikan masih dalam kondisi aman.

Hal tersebut berdasarkan hasil diskusi dengan para tenaga ahli dan pengamat kebencanaan di Samarinda. “Dipastikan masih aman untuk menampung air, Insya Allah kuat,” ungkap Ifran kepada media ini pada Sabtu sore.

Kendati sempat berada di posisi level awas, namun kini TMA Benanga telah turun di level kuning atau siaga. Beda halnya bila TMA terus berada diposisi level merah. Maka efeknya bisa terjadi seperti banjir besar tahun 1998 lalu.

“Kali ini lebih tinggi dari tahun kemarin. Tapi untungnya sudah kembali lagi ke level kuning. Debit volume kali ini luar biasa, ini dikarenakan hujan selama sepuluh jam10 jam,”ucapnya.

Hanya saja, Ifran mengatakan, bagian hilir bantaran sungai Karang Mumus mesti waspada. Banjir diperkirakan akan meluas karena air yang sudah turun ke aliran sungai dapat meluap. “Air sempat meninggi tadi dikarenakan siklus pasang air ,” imbuhnya.

Ifran memaparkan, dari data laporan yang diterima BPBD Samarinda, banjir kali ini terjadi di empat kecamatan. Namun data terdampak banjir yang rampung terselesaikan baru dari Kecamatan Samarinda Utara dan Kecamatan Sungai Pinang.

Total terdampak banjir di kawasan ini, ada sebanyak 1.671 rumah dengan 4.076 jiwa. “Kalau dari Kecamatan lainnya, seperti di sebagian Samarinda Ulu dan Palaran masih proses pendataan,” terangnya.

Lebih lanjut, BPBD telah mengirimkan dua perahu untuk Desa Budaya Pampang dan di Perumahan Bengkuring. BPBD yang masuk dalam gugus tugas penanganan Covid-19 harus membagi personelnya untuk penanganan banjir kali ini.

“Untuk sementara penanganan banjir kami tugaskan tim evakuasi yang berjumlah sepuluh orang untuk menangani masalah banjir ini,” jelasnya.

Sementara itu, terkait pendirian posko, Ifran menyampaikan masih harus menunggu dari status kebencanaannya. Ada dua kategori, diantaranya status Siaga Darurat Banjir dan Tanggap Darurat Banjir.

“Untuk membangun posko masih menunggu status dari kedaruratan banjir. Kita lihat dua hari ini petapannya bagaimana,” ucapnya.

“Intinya posko dibangun bila banjir terus meluas. Kaitannya dengan penetapan status, apakah akan diberikan status siaga darurat banjir atau tanggap darurat banjir,” tambahnya.

Saat ini Pemerintah Kota Samarinda masih membahas penetapan status kebencanaan ketingkat siaga darurat banjir. “Hanya saja kita harus merampungkan data ini terdahulu. Karena harus dikaji cepat sesuai data. Kemungkinan akan rampung hari ini, agar bisa ditetapkan statusnya besok,” pungkasnya. (*)

Reporter: Dzulfikar
Editor: Ricardo

Tags

Related Articles

Back to top button
Close