Unsur Kelalaian Dua Terdakwa Mulai Terungkap

Sidang Lanjutan Tewasnya Balita Yusuf

23 June 2020, 17:59

SAMARINDA, analisanews.co – Melisari tak kuasa menahan tangis ketika dua terdakwa Marlina dan Tri Suprana Yanti menyampaikan kronologi detik-detik hilangnya Ahmad Yusuf Gazali.

Dari lingkungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Jannatul Athfal, di Jalan AW Syahranie, Kelurahan Gunung Kelua, Kecamatan Samarinda Ulu, pada Jumat siang, 22 November 2019 lalu. 

Terungkap fakta unsur kelalaian dari dua pengasuh hingga menyebabkan hilangnya nyawa anak dari pasangan Bambang Sulistyo dan Melisari.

Di dalam persidangan beragendakan pemeriksaan kedua terdakwa, yang berlangsung via daring di Pengadilan Negeri (PN) Samarinda pada Senin siang, 22 Juni 2020.

Dari sambungan virtual, kedua terdakwa Marlina dan Tri menyampaikan, kronologi hilangnya Yusuf kepada majelis hakim yang dipimpin Agung Sulistiyono didampingi Budi Santoso dan Hasrawati Yunus. 

Kala itu di dalam ruangan pengasuh, Marlina dan Tri tengah menjaga tujuh anak asuhnya. Terdiri dari tiga bayi dan empat balita, satu di antaranya adalah Yusuf

Petaka itu bermula ketika Marlina yang sedari tadi tengah asik bermain dengan anak-anak asuhnya, meminta izin kepada Tri untuk pergi ke toilet. “Saya bilang, Bun, saya titip Yusuf ya, mau ke toilet,” terang Marlina didalam persidangan. 

Usai pamit, Marlina lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan. Namun saat pergi, ia tak sempat menutup pintu. “Pintunya memang enggak bisa ditutup dari luar. Hanya bisa ditutup dari dalam,” jelasnya.

Selang dua menit, sekembali dari toilet, Marlina merasa anak asuhnya sudah tidak lengkap. Ia lekas tersadar, Yusuf tak ada di dalam ruangan itu. Ia lantas bertanya kepada Tri yang tengah memberi susu pada salah satu bayi.

“Saya langsung sadar, karena Yusuf paling besar badannya. Jadi saya tanya sama bunda Tri. Yusuf dimana Bun? Dia bilang itu lagi main sama anak-anak. Tapi saat itu Yusuf sudah engga ada,” ungkap Marlina

Sadar Yusuf tidak berada didalam ruangan, kedua pengasuh itu lalu berkeliling mencari dan bertanya kepada pengasuh dari ruang lain. “Tapi tak ada yang lihat Yusuf,” lanjutnya.

Sementara itu, Tri menyampaikan kisah yang sama. Saat Yusuf dititipkan Marlina yang hendak pergi ke toilet, pintu dalam keadaan terbuka namun tak sempat ia tutup. “Saya hilang fokus karena bayi menangis dan saya langsung memberikan susu,” terang Tri.

Ia baru sadar Yusuf tak ada di dalam ruangan ketika Marlina balik dari toilet dan bertanya kepadanya. Saat itulah keduanya coba melakukan pencarian bersama rekanan pengasuh lainnya. Namun Yusuf nihil ditemukan. 

Setelah Yusuf tak berhasil ditemukan, pihak PAUD kemudian menghubungi Melisari. Malam harinya, setelah Bambang dan Melisari melaporkan kejadian kepolisian. Pihak PAUD menyempatkan diri bertamu di kediaman Yusuf.

Bertujuan untuk meminta maaf atas kelalaian dari pihak PAUD. “Malamnya kami bertemu dengan orang tua Yusuf dan meminta maaf. Saat itu, bapaknya Yusuf hanya menyebut ini cobaan semua pihak,” sambungnya.

Seperti diketahui, usai dua pekan Yusuf dinyatakan menghilang. Jasadnya ditemukan dengan kondisi mengenaskan. Dia dapati dengan tubuh hancur dan tanpa kepala di saluran air kawasan Gang II Jalan Pangeran Antasari, Teluk Lerong Ilir, Samarinda Ulu.

Marlina dan Tri Supramayanti dianggap yang paling bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Hilangnya Yusuf, karena saat itu terdakwa Marlina yang sedang pamit ke toilet tanpa menutup pintu. 

Sedangkan Tri Supramayanti membiarkan pintu dalam keadaan terbuka saat sedang memberikan susu kepada anak asuhnya. Ditambah, pintu pagar PAUD dibiarkan dalam keadaan terbuka. 

Dari kronologis yang disampaikan kedua terdakwa, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Samarinda, Ridhayani Natsir menjerat Marlina dan Tri Supramayanti dengan pasal 359 KUHP. 

Keduanya dianggap telah memenuhi unsur tindak pidana kelalaian. Hal itu juga selajur dengan standar operasional mendidik yang diterapkan PAUD tempat keduanya bekerja.

Keduanya telah melanggar dua poin peraturan yang berlaku. Di antaranya, tidak menutup pintu ruangan saat sedang berkegiatan serta tidak menjaga atau pun mengarahkan anak didik yang menjadi kewajiban pengasuh. (*)

Reporter: Nina
Editor: Ricardo

Tags

Related Articles

Back to top button
Close