Tekan Enter untuk mencari

Kamis, 9 April 2026

Trump Isyaratkan Perang dengan Iran Segera Berakhir, Klaim Kemampuan Militer Teheran Lumpuh

Redaksi
Diterbitkan Selasa, 10 Maret 2026 08:37 WITA
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump

TEHERAN – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk pertama kalinya memberi sinyal bahwa perang melawan Iran yang dilakukan bersama Israel akan segera berakhir.

Ia menyebut operasi militer yang dimulai sejak 28 Februari 2026 itu hampir rampung dan bahkan berjalan lebih cepat dari perkiraan awal.

Dalam wawancara melalui sambungan telepon dengan CBS News, Trump mengklaim operasi militer tersebut telah menghancurkan sebagian besar kemampuan militer Iran.

Menurutnya, kondisi militer Teheran kini jauh melemah dibandingkan sebelum konflik dimulai.

“Saya pikir perang ini sudah sangat sempurna, kurang lebih,” kata Trump, dilansir dari Kompas.com.

Trump menilai kerusakan yang dialami militer Iran sangat besar.

Ia menyebut sejumlah kemampuan strategis Iran, termasuk angkatan laut, sistem komunikasi militer, hingga kekuatan udara, telah lumpuh.

“Mereka tidak punya angkatan laut, tidak punya komunikasi, mereka tidak punya angkatan udara,” ujarnya.

Ia juga mengklaim berbagai sistem senjata Iran telah dihancurkan, mulai dari rudal hingga drone.

Menurut Trump, sebagian besar fasilitas produksi drone Iran juga telah dihancurkan dalam serangan militer tersebut.

“Rudal mereka tinggal sedikit dan tersebar. Drone mereka dihancurkan di mana-mana, termasuk fasilitas produksinya,” katanya.

Trump sebelumnya memperkirakan konflik akan berlangsung sekitar empat hingga lima minggu.

Namun ia menyebut perkembangan operasi militer berlangsung jauh lebih cepat dari jadwal awal.

Trump dijadwalkan menyampaikan perkembangan terbaru konflik dalam konferensi pers di klub golf miliknya di Doral, dekat Miami.

Di sisi lain, Iran tetap melancarkan serangan balasan.

Pada hari pertama kepemimpinan Mojtaba Khamenei, putra mendiang pemimpin Iran Ali Khamenei, militer Iran menembakkan gelombang baru rudal dan drone ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.

Serangan tersebut diarahkan ke beberapa negara, termasuk Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Israel.

Satu rudal juga dilaporkan ditembakkan ke Turkiye, anggota NATO, namun berhasil dicegat sistem pertahanan udara sebelum mencapai target.

Konflik ini juga mengguncang pasar energi global setelah Iran menutup Selat Hormuz bagi hampir semua kapal tanker minyak.

Jalur laut strategis tersebut biasanya dilalui hampir 20 persen perdagangan minyak mentah dunia.

Akibat penutupan itu, harga minyak dunia sempat melonjak menembus 100 dolar AS per barel pada Senin, level tertinggi sejak Invasi Rusia ke Ukraina 2022.

Presiden Perancis Emmanuel Macron mengatakan negara-negara sekutu tengah menyiapkan misi defensif untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz setelah fase paling panas konflik mereda.

Sementara itu, penasihat kebijakan luar negeri Iran Kamal Kharazi menyatakan Teheran memperkirakan tekanan ekonomi global akan memaksa negara-negara lain turun tangan untuk mengakhiri perang.

Sejak serangan militer AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari, harga minyak dunia dilaporkan telah naik sekitar 40 hingga 50 persen.

Dampaknya mulai terasa di berbagai negara, termasuk antrean panjang di pom bensin di beberapa wilayah Asia seperti Vietnam dan Filipina.

Di tengah konflik tersebut, korban jiwa juga terus bertambah.

Pentagon melaporkan tentara ketujuh Amerika yang tewas adalah Sersan Angkatan Darat Benjamin Pennington, 26 tahun, yang meninggal akibat luka dari serangan Iran terhadap Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi.

Secara keseluruhan, konflik ini dilaporkan telah menewaskan tujuh warga Amerika Serikat, sedikitnya 1.230 orang di Iran, hampir 400 orang di Lebanon, serta sedikitnya 11 orang di Israel. (*)

Bagikan
berita terkait