Nyetor ke Oknum Aparat Rp 10 Juta Setiap Bulan, Distributor Jamu Ditangkap

6 April 2021, 01:37

SURABAYA, analisanews.co – Siswoyo distributor jamu milik CV Sumbar Waras Nusantara, mengaku diperas oknum Direktorat Narkoba Polda Jatim. Ia dimintai uang sebesar Rp 200 juta. Uang tersebut dimintai agar kasus jamu tanpa izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), tidak dilanjutkan.

Menurutnya, sejak awal penangkapan, banyak kejanggalan yang ia alami. Mulai dari penangkapan dirinya di Gresik yang tanpa membawa surat tugas. Mulai dari surat perintah penahanan (Sprinhan) dan surat perintah penangkapan (Sprinkap).

Bahkan, pemeriksaan yang dilakukan di rumah dinas salah satu petinggi Polda Jatim. Ia ditangkap Selasa (23/3) lalu. Sejak saat itu ia berada di rumah dinas tadi. Dalam pemeriksaan pertama, tuduhan yang diberikan ialah dirinya melakukan Home Industri.

“Tuduhan pertama itu tidak terbukti bersalah. Memang ada beberapa lebel jamu yang tidak ditempel pada kemasan. Lebel itu hanya antisipasi kalau saja ada lebel di kemasan yang rusak. Jadi bisa langsuang diganti,” kata Siswoyo saat ditemui di rumah makan beberapa waktu lalu.

Saat di rumah dinas tersebut, menurutnya itu merupakan penyekapan. Lantaran, semua alat komunikasinya diambil. Tidak boleh menghubungi orang lain terkecuali pemilik jamu tersebut. Bahkan, saat itu ia tidak diberikan makanan dan minuman.

Setelah tuduhan pertama tidak terbukti, ia kembali melakukan pemeriksaan. Dengan tuduhan jamu tersebut tidak memiliki BPOM. Padahal, manajemen pabrik jamu tersebut sudah mengantongi izin. Malah, ia mengakui kalau setiap bulan pemilik usaha jamu ini memberikan atensi kepada Polda Jatim.

“Setahu saya, itu pabrik sudah mengantongi izin. Surat-suratnya ada semua. Mulai dari badan usaha dan administrasi lainnya. Ada juga atensi ke aparat senilai Rp 10 juta tiap bulan. Tapi skarang saya yang malah ditangkap,” ungkapnya.

Pemeriksaan kedua baru saya dibawa ke ruang pemeriksaan. Polisi yang melakukan penyidikan juga berubah. Tekanannya tidak seperti diawal. “Agak longgar lah yang kedua. Setelah itu saya langsung diberikan surat untuk ditandatangan,” tambahnya lagi.

Kamis (25/3) lalu, dirinya dilepas. Ia disuruh untuk mencari uang Rp 200 juta yang diminta tadi. Sehingga, kasus tersebut dihentikan. “Saya disuruh cari uang. Tapi, saya sering banget ditelepon. Seperti tahanan yang wajib melapor,” celetuknya.

Diwaktu yang berbeda, Humas Paguyupan Jamu di Banyuwangi Anang mempertanyakan kasus tersebut. Di satu sisi, ia mendukung program 100 hari kinerja Kapolri.  Namun dengan kasus tersebut, ini mencederai nama institusi.

“Kapolri pernah bilang kalau kegiatan Kepolisian tidak boleh menghambat kreativitas UMKM. Bahkan, Kapolri juga mau memperbaiki citra kepolisian. Agar tidak ada lagi potensi menyalahgunakan wewenang. Tapi, ini kok malah mendapat kasus seperti ini,” terangnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Replik Handoko saat dikonfirmasi Senin (5/4) malam, memastikan bahwa kasus itu masih tetap dalam proses penyidikan. “Tetap disidik. Tidak ada yang disembunyikan. Kasus ini tetap jalan,” tegasnya.

Terkait nominal uang Rp 200 juta itu, perwira melati dua ini mengungkapkan, kalau pengusaha jamu itu yang mencoba menyuap petugas. “Dengan tegas, kami pasti tolak tawaran itu,” tegasnya.

Editor: Redaksi Analisa

Tags

Related Articles

Back to top button
Close