New Normal Menurut Pandangan Medis

29 May 2020, 23:16

SAMARINDA, analisanews.co – New normal yang akan diterapkan di Samarinda harus benar-benar diperhatikan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda. Ketua Ikatan Dokter Indonesia Kalimantan Timur (IDI Kaltim) dr Nataniel Tandirogang menyampaikan hal tersebut.

Saat ini Samarinda masuk dalam masa penurunan kasus Covid-19. Jumlah kasus yang diperiksa sampai hari ini juga tidak banyak dan signifikan. Pemeriksaan pun bisa dilakukan dengan cepat karena Samarinda memiliki dua alat swab test.

Ada di RSUD Abdul Wahab Sjahranie dan Laboratorium Kesehatan Provinsi Kaltim. Sehingga pemeriksaan itu bisa lebih cepat, dan antrean tak terlalu panjang.

Terkait penerapan new normal, World Health Organization (WHO) memiliki en kriteria. Menurut dr Nataniel, persyaratan dari WHO harus dipenuhi dan kasus corona di Kota Samarinda sendiri benar-benar sudah terkontrol.

Syarat pertama dari WHO, pemerintah harus memastikan pengendalian virus corona sudah berlangsung dan berjalan dengan baik. Kedua, menyiapkan rumah sakit dan laboratorium untuk mengidentifikasi, isolasi, dan karantina pasien yang memiliki gejala covid-19.

Ketiga, pemerintah harus memastikan pencegahan dan perlindungan pada masyarakat yang rentan dan beresiko tinggi. “Sejauh ini sudah dilakukan semua, dan untuk pasien yang dimaksud adalah semua PDP (Pasien Dalam Pengawasan) dan ODP (Orang Dalam Pemantauan) sudah didata,” katanya.

Keempat, Pemkot Samarinda harus membuat protokol untuk melakukan upaya-upaya pencegahan dan perlindungan. Bagi dr Nataniel hal ini perlu karena ini dalam artian aturan yang mengikat. Jika perlu ada sanksi seperti masyarakat yang beraktivitas di luar harus menggunakan masker.

Kemudian menyiapkan tempat cuci tangan di tempat-tempat keramaian agar orang-orang bisa mencuci tangan, jika tidak melakukan akan ada sanksi. “Kelima, pemerintah harus mencegah kasus impor. Kasus impor maksudnya terjadi mobilisasi kasus penularan dari luar daerah,” jelasnya.

Syarat terakhir, persiapan penerapannya dilakukan Pemkot Samarinda melalui sosialisasi juga edukasi kepada masyarakat. Ini yang paling ditekankan dr Nataniel. Karena tujuannya, agar masyarakat paham soal istilah new normal itu.

“Jika masyarakat tidak paham new normal bagaimana masyarakat bisa melindungi dirinya agar tidak tertular dan menulari,” terangnya.

Jadi perlu dilakukan sosialisasi dan edukasi terlebih dahulu. Nathaniel berharap pemerintah di seluruh kabupaten/kota di Kaltim sedang melakukannya. Untuk berbicara data, Samarinda memang sudah masuk ke masa penurunan kasus, tetapi belum sampai 14 hari yang menjadi persyaratan penting dari WHO.

Terkait kebijakan fase relaksasi, bisa saja dilakukan. Namun ketika terjadi lonjakan harus segera ada penanganan serius. Harus dipantau setiap waktu, dan segera harus dihentikan. “Karena jangan sampai tenaga kesehatan kita yang runtuh akibat lonjakan yang bisa terjadi itu,” tambahnya.

Sejauh ini Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Samarinda telah berkerja dengan sangat baik untuk menemukan kasus penularan baik itu ODP, PDP, dan OTG (Orang Tanpa Gejala). Baginya, yang perlu ditingkatkan adalah pemeriksaan tes rapid masal, agar bisa dipastikan seberapa jauh penularan kasus corona di Samarinda.

“Untungnya sejauh ini di Kaltim, jika diperhatikan kasus kita cuma dari ringan sampai sedang. Artinya kita hadapi ini termasuk ringan tapi perlu penelitian secara ilmiah dulu,” lanjutnya.

Ia juga meminta masyarakat untuk tidak menyalah artikan istilah new normal. Yakni, sama dengan sebelum terjadinya Covid-19. “Boleh lakukan aktivitas di luar, namun dibarengi dengan kehidupan sehat, gerakan masyarakat (Germas) hidup sehat benar-benar harus dikerjakan mulai saat ini,” pungkasnya. (*)

Reporter: Dzulfikar
Editor: Y Almerio

Tags

Related Articles

Back to top button
Close