Mengenal Inovasi Keuangan Finansial Teknologi

16 March 2021, 15:09

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) sudah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) nomor 114 Tahun 2020, tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI). Aturan itu untuk menargetkan tingkat inklusi keuangan hingga dapat mencapai 90 persen pada 2024.

Target tersebut dipatok untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui akses ke fasilitas keuangan. Inklusi keuangan ditargetkan untuk menyasar masyarakat yang berada di piramida ekonomi terbawah.

Sehingga dengan hadirnya finansial teknologi (fintech) diharapkan dapat menjadi alternatif solusi, untuk membantu mencapai target inklusi keuangan tersebut. Upaya itu dilakukan untuk mendorong inklusi keuangan di tengah pandemi global. Termasuk Indonesia.

Hal itu pun yang dilakukan oleh PT Pundiku Mitra Sejahtera (Pundiku) dan PT Prima Fintech Indonesia (Teman Prima). Kedua perusahaan fintech P2P lending itu terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kedua perusahaan itu juga hari ini (16/3/2021) melaksanakan talk show di kampus STIE Pancasetia Banjarbaru. Tentunya acara yang mereka laksanakan dilakukan secara online. Mereka ingin mengenalkan industri fintech peer-to-peer lending. Serta inovasi yang mereka lakukan.

“Kami berharap adanya kehadiran industri fintech P2P lending mampu meningkatkan pengetahuan, terkait layanan keuangan berbasis digital. Serta membuka akses finansial ke seluruh lapisan masyarakat melalui model bisnis fintech lending,” kata CEO Pundiku Kadek Darma Susila.

Saat ini, data yang telah diterima oleh OJK, terkait bisnis pinjaman fintech P2P lending telah mencapai Rp 128,7 triliun. Angka itu hingga kuartal III 2020. Nilai tadi tumbuh dari posisi tahun lalu yang hanya diangka Rp 44,8 triliun.

Hal ini membuktikan bahwa industri P2P lending turut mendorong dan menggerakkan perekonomian negara. Seiring dengan pertumbuhannya yang signifikan. Kenaikan pesat penyaluran pinjaman P2P lending ini tak lepas dari peningkatan jumlah akun peminjam (borrower) dan pemberi pinjaman (lender).

Dengan pengguna aktif rentang usia produktif. Yaitu 19-34 tahun. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian berharap stakeholders terkait mampu menjaga tren pertumbuhan positif ini. Sehingga industri fintech P2P lending ke depan terus bisa berinovasi dalam memberikan layanan keuangan terhadap masyarakat.

Diwaktu yang sama, Operational and PR Manager Arif Lukman H menambahkan dengan dilaksanakan edukasi secara daring ini, dapat memberikan pemahaman masyarakat setempat. Sehingga dapat memanfaatkan layanan produk P2P lending ini untuk memenuhi kebutuhan selama masa pandemi Covid-19.

“Sat ini satgas waspada investasi OJK sudah menutup 126 platform fintech lending ilegal per September 2020. Karena maraknya tawaran pinjaman online selama masa pandemi,” bebernya.

Acara yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa STIE Pancasetia Banjarbaru. Ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat antusisas menyambut menyambut kehadiran berbagai inovasi produk. Dalam bidang keuangan digital untuk memenuhi kebutuhan dimasa pandemi serta mencapai target inklusi keuangan.

Editor: Redaksi Analisa

Tags

Related Articles

Back to top button
Close