Kotak Koin dan KFUND Kenalkan Manfaat Finansial Era Digital dengan Fintech P2P Lending

21 November 2020, 22:46

Banjarmasin, analisanews.co – Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DKNI) menargetkan 75 persen inklusi keuangan. Hanta saja, sampai saat ini capaian target bafu 49 persen.

Inklusi keuangan itu, ditargetkan untuk menyasar masyarakat yang berada di piramida ekonomi terbawah. Hadirnya finansial teknologi (fintech) diharapkan dapat menjadi alternatif solusi untuk membantu mencapai target inklusi keuangan tadi.

“Kami berupaya mendorong konsistensi inklusi keuangan di tengah pandemi global yang saat ini dialami banyak negara termasuk Indonesia,” kata Direktur Kotak Koin Okta Pramudya, Jumat (20/11/2020).

Ada beberapa platform fintech P2P lending terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Salah satunya PT Coco Digital Technology (Kotak Koin) dan PT Kinerja Sukses Gemilang (KFUND).

Platform ini menyelenggarakan talk show dengan mahasiswa Universitas Palangkaraya. Tentu dengan metode daring. Mereka mau mengenalkan industri fintech peer-to-peer lending.

Serta pemahaman inovasi yang dilakukan fintech untuk tetap mendorong inklusi keuangan selama masa pandemi.

“Kami berharap adanya kehadiran industri fintech P2P lending, mampu meningkatkan pengetahuan terkait layanan keuangan berbasis digital dan membuka akses finansial yang lebih luas untuk masyarakat Kalimantan, khususnya Banjarmasin,” jelasnya.

Menurut data OJK, bisnis pinjaman P2P lending telah mencapai Rp 128,7 triliun hingga kuartal III 2020. Nilai itu tumbuh dari posisi tahun lalu hanya Rp 44,8 triliun.

Hal ini membuktikan bahwa industri P2P lending turut mendorong dan menggerakkan perekonomian negara seiring dengan pertumbuhannya yang signifikan.

Kenaikan pesat penyaluran pinjaman P2P lending ini tak lepas dari peningkatan jumlah akun peminjam (borrower) dan pemberi pinjaman (lender), dengan pengguna aktif rentang usia produktif 19-34 tahun.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian berharap stakeholders terkait mampu menjaga tren pertumbuhan positif ini, sehingga industri fintech P2P lending ke depan terus bisa berinovasi dalam memberikan layanan keuangan terhadap masyarakat.

Sementara itu, IT Architecture KFUND Mario Lim menambahkan, adanya edukasi daring ini, mereka bermimpi agar masyarakat Kalimantan dapat memanfaatkan layanan produk P2P lending untuk kebutuhan dalam menghadapi masa pandemi dan tetap waspada terhadap fintech ilegal.

“Semoga ini bermanfaat untuk masyarakat Kalimantan. Khususnya Kalimantan Selatan,” celetuknya.

Acara yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa Universitas Palangka Raya ini menjadi bukti nyata. Kalau masyarakat sangat antusisas menyambut kehadiran berbagai inovasi produk. Tentu dalam bidang keuangan digital. Untuk memenuhi kebutuhan dimasa pandemi serta mencapai target inklusi keuangan.

Penulis: Nina
Editor: Redaksi AnalisaNews

Tags

Related Articles

Back to top button
Close