Korban Dugaan Pelecehan Seksual Minta Pendampingan Hukum

Polisi Menunggu Alat Bukti Cukup

13 June 2020, 20:41

SAMARINDA, analisanews.co – Calon kreditur sebuah koperasi yang menjadi korban dugaan pelecehan seksual berinisial An meminta pendampingan oleh Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC-PPA) Korwil Kalimantan Timur atas kejadian yang menimpa dirinya.

Hal itu menyusul, setelah ia justru menjadi korban perundungan di media sosial. Selain itu, laporan An sebagai korban pelecehan seksual pun ditolak oleh pihak kepolisian.

Seperti diketahui sebelumnya, An menjadi korban tindakan mesum yang dilakukan oleh oknum pegawai koperasi ketika dirinya berencana hendak meminjam sejumlah uang.

Kejadian itu berlangsung saat pelaku bertandang ke rumah korban yang terletak di Jalan Ruhui Rahayu, Kecamatan Sungai Pinang pada Kamis siang, 11 Juni 2020 lalu. Kedatangan pelaku kala itu, bertujuan untuk melengkapi sejumlah data diri korban, guna uang yang akan dipinjamkan segera dicairkan.

Tetapi dalam kesempatan itu, pelaku justru melakukan tindakan senonoh kepada korban. Saat kejadian itu dilaporkan ke Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM), An justru dirundung oleh warganet. Setelah hal yang menimpa dirinya tersebar di dunia maya.

Kasus yang dialaminya pum menjadi  konsumsi publik. Menurut versinya, justru kabar yang disampaikan di media sosial berbanding terbalik dengan yang dialaminya.

Hingga membuatnya merasa sebagai korban pencemaran nama baik. Hal itu terjadi, setelah sejumlah akun media sosial dianggap melebih-lebihkan kronologi kasusnya. 

“Saya di-bully, tidak hanya melalui kolom komentar. Beberapa akun bahkan mengirim pesan pribadi,” ungkapnya saat ditemui analisanews.co pada Sabtu siang, 13 Juni 2020.

An malah dituding jual diri dengan imbalan sejumlah uang. Bahkan beberapa pesan dengan kata-kata tidak senonoh diterimanya. Tudingan tersebut tentu membuat perempuan 28 tahun itu tertekan secara psikologis. 

“Hal ini membuat saya tertekan, untuk bekerja saya malu. Mau kemana-mana jadi malu. Disini saya menegaskan, bahwa saya mencari keadilan, saya sebagai wanita tidak mau dilecehkan,” ucapnya.

Ia menegaskan, bahwa saat kejadian tersebut ia benar-benar sebagai korban asusila saat hendak ingin meminjam uang. Bukan sebagai yang ditudingkan warganet kepadanya. 

“Saya hanya ingin meminjam uang di koperasi, tapi netizen berasumsi bahwa saya telah melakukan menggoda oknum pegawai koperasi agar bisa memuluskan pinjaman,” imbuhnya.

Hal lain yang membuat ibu satu anak ini kecewa, laporan ditolak kepolisian. Dengan alasan tidak ada bukti kuat menunjukkan dirinya korban pelecehan. Atas dasar tersebut, ia meminta bantuan pendampingan hukum oleh TRC PPA.

Sementara itu, Humas TRC PPA Ratnasari Tri Febriana membenarkan ada permintaan pendampingan hukum dari korban. Pihaknya berencana akan mengantar korban melapor ulang ke kepolisian.

Terkait kronologi laporan korban ditolak oleh kepolisian, perempuan yang akrab disapa Nana itu belum mengetahui secara detail penyebabnya. Kendati demikian, pihaknya berencana akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian.

“Kami akan coba klarifikasi, apa penyebab ditolaknya laporan. Jadi harus tetap ada komunikasi dulu,” terangnya. 

“Kalau dari pengakuan korban, sudah terjadi pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum pegawai koperasi. Saat ini korban secara psikologisnya tertekan,” sambungnya.

Nana mengatakan, kini korban mengalami tertekan atas pelecehan seksual yang dialaminya. Ditambah dengan beredarnya kabar yang tidak sesuai fakta, telah berseliweran di media sosial yang justru menyudutkan korban.

Lanjut Nana, pihaknya sebagai pendamping korban tidak hanya fokus menangani kasus. Namun juga lebih terhadap pendampingan psikologis. Ia menambahkan, pendampingan laporan korban segera dilakukan dalam waktu dekat ini. 

“Secepatnya akan kita dampingi pelaporannya, yang utama adalah komunikasi dahulu dengan pihak kepolisian,” pungkasnya.

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Samarinda Iptu Teguh Wibowo menerangkan, tidak ada penolakan atas laporan korban.

Hanya saja, laporan yang dilakukan korban belum menyertakan sejumlah bukti pendukung atas adanya dugaan pelecehan seksual yang dialami korban.

“Laporan tidak didukung bukti yang kuat. Bukan ditolak. katanya terjadi pelecehan. Cuma saksi yang melihat di situ kan enggak ada. Kalau dilakukan visum pun belum tentu ada bekas pelecehan,” terangnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon Sabtu sore, 13 Juni 2020.

Ia menjelaskan, perihal kasus pelecehan seksual yang dilaporkan oleh korban, harus disertai dengan saksi dan sejumlah bukti pendukung. Hal itu guna menghindari fitnah dan menuduh salah satu pihak. Yang justru akan merugikan korban serta pihak yang dilaporkan.

Ia menegaskan, saat ini polisi masih menunggu laporan kembali dari korban. Dengan disertai sejumlah bukti pendukung yang dimaksud. Setelah laporan beserta bukti pendukung telah disertai, pihaknya memastikan dengan segera melakukan proses penyelidikan.

“Jad, jika pelapor membawa saksi lain yang bisa menguatkan motif tersebut, tentu segera diproses. Inilah hukum, harus berdasar praduga tak bersalah,” pungkasnya. (*)

Reporter: Nina
Editor: Ricardo

Tags

Related Articles

Back to top button
Close