Kenalkan Fintech ke Mahasiswa Universitas Sumatera Utara

30 March 2021, 23:15

MEDAN, analisanews.co – Tiga platform fintech peer to peer (P2P) Lending melakukan edukasi kepada mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Program ini dilakukan untuk mengikuti praturan presiden (Perpres) nomor 114 tahun 2020.

Perpres itu tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI), untuk menargetkan tingkat inklusi keuangan hingga dapat mencapai 90 persen pada 2024 mendatang. Sehingga, perekonomian masyarakat menengah ke bawah akan meningkat.

Hadirnya finansial teknologi (fintech) dapat menjadi alternatif solusi untuk membantu mencapai target inklusi keuangan tersebut. Ketiga platform tadi yaitu PT Idana Solusi Sejahtera (Cairin), PT Prima Fintech Indonesia (Teman Prima) dan PT Pundiku Mitra Sejahtera (Pundiku).

Semua platform P2P Lending sudah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam edukasi itu, mereka mengenalkan inovasi yang dilakukan fintech dalam mendorong inklusi keuangan selama masa pandemi Covid-19.

“Kami berharap adanya kehadiran industri fintech P2P lending mampu meningkatkan pengetahuan terkait layanan keuangan berbasis digital. Serta membuka akses finansial ke seluruh lapisan masyarakat melalui model bisnis fintech lending,” kata Digital Marketing Manager Cairin Hendra Putra, Selasa (30/3).

Menurut data yang diterima OJK, hingga kuartal ke III di 2020 lalu, penggunaan jasa fintech P2P Lending sudah mencapai Rp 128,7 triliun. Nilai itu tumbuh pesat dari 2019 yang hanya Rp 44,8 triliun.

“Hal ini membuktikan bahwa industri P2P lending, turut mendorong dan menggerakkan perekonomian negara seiring dengan pertumbuhannya yang signifikan,” terangnya.

Sementara itu, CEO Pundiku menambahkan Kadek Darma Susila menambahkan, agar masyarakat Sumatra Utara khususnya medan dapat memanfaatkan teknologi ini, untuk memenuhi kebutuhannya selama masa pandemi Covid-19. “Tapi tetap waspada dengan fintech ilegal,” celetuknya.

Operational & PR Manager Teman Prima Arif Lukman H mengungkapkan, kalau saat ini, satgas waspada investasi OJK sudah menutup 126 platform fintech lending ilegal per September 2020 karena maraknya tawaran pinjaman online selama masa pandemi.

“Sudah banyak yang jadi korban karena tidak teliti. Fintech yang legal pasti terdaftar dan diawasi oleh OJK. Jadi, jangan lengah. Harus tetap teliti dalam menggunakan teknologi ini,” tegasnya.

Editor: Redaksi Analisa

Tags

Related Articles

Back to top button
Close