Hanya Setahun Sri Merasakan Cinta yang Utuh

10 December 2020, 19:20

Kegalauan Sri Mulyani Istiqoma belum mandek setelah kepergian suaminyi yang terkena Covid-19. Dia masih memperjuangkan dana bantuan Kementerian Sosial (Kemensos) RI sebesar Rp 15 juta. Tetapi ada prosedur yang “luput” sehingga uang itu tidak bisa diterima oleh keluarga Sri.

MATAHARI saat itu sedang malu menampakkan wajahnya. Hari itu, Sabtu (28/11), sang surya bersembunyi di balik tebalnya awan. Mendung. Seperti suasana batin Sri Mulyani Istiqoma yang baru saja menjanda. Muhammad Hasan, suaminya, baru saja tiada. Virus korona merenggut nyawanya pada Juli lalu.

Kini, Sri tinggal bersama anak semata wayangnyi, Moch. Dani Firmansyah. Mereka tinggal di sebuah rumah mungil di Jalan Siwalankerto V, Gang Pisang. Gang itu sempit. Hanya cukup dilintasi satu motor.

Rumah berwarna biru itu minimalis. Hanya ada dua kamar, satu ruang tamu, satu dapur, dan satu kamar mandi. Di situlah Sri mengungkapkan nestapanyi. Terutama kenapa dia memperjuangkan dana bantuan sebesar Rp 15 juta tersebut.

Bagi Sri, uang itu sangat besar. Bisa membantu kehidupannya. Memang, Dani, anak Sri, sudah bekerja. Tetapi, penghasilannya belum cukup untuk memenuhi seluruh kehidupan mereka.

“Anak saya hanya bekerja di salah satu toko elektronik di dekat Jembatan Merah. Hanya sebagai penagihan. Hanya cukup untuk makan sehari-hari. Untuk kebutuhan lainnya, saya harus putar otak,” ucap Sri.

Beruntung, perempuan 43 tahun itu tidak perlu membayar kontrakan atau kos-kosan. Sebab, ia tinggal di rumah pemberian orang tua. Sebelum pandemi melanda, Sri berjualan makanan di kantin Universitas Kristen Petra. Tetapi, aktivitas itu akhirnya mandek. Tak ada lagi aktivitas belajar di kampus itu. Tak ada lagi mahasiswa yang membeli makanan di kantin tersebut.

Beruntung, ketika itu, suami Sri masih hidup. Hasan bahkan sangat senang saat Sri tak lagi kerja. Terlebih, saat itu pernikahan Sri dengan suami keduanyi itu memang sedang hangat-hangatnya. Mereka baru menikah pada Januari tahun ini.

“Waktu saya berhenti bekerja suami saya memang sangat senang. Karena, itu yang ia inginkan. Walaupun, ia hanya seorang sekuriti di salah satu perusahaan. Ia memang tidak mau melihat saya kerja keras. Saya Bahagia hidup dengannya. Walaupun hanya beberapa bulan,” kata Sri.

Tetapi, kemesraan itu tak berlangsung lama. Pada Juli, Hasan terpapar virus korona. Tentu, Sri tak langsung tahu. Yang jelas. Tiba-tiba suaminyi itu demam. Sangat tinggi. Juga sangat lemas.

“Kata suami saya saat itu, badannya capek banget. Seperti habis lari puluhan kilometer. Saya bawa suami saya ke RS Islam waktu itu. Sampai di sana langsung di tes swab,” kata perempuan kelahiran 17 Februari 1977.

Saat hasil tes itu belum keluar, Hasan tutup usia pada usia 41 tahun. Karena tak paham kondisi sang suami, Sri minta Hasan dimakamkan di Siwalankerto. Untuk itu, rumah sakit minta biaya Rp 4 juta karena Hasan dikebumikan bukan di makam yang sudah ditetapkan pemerintah.

Dan seandainya pun Hasan dikubur di makam khusus Covid-19, di Keputih, Sri juga tetap harus membayar Rp 2 juta.

Tahu bahwa ada bantuan Kemensos untuk korban Covid-19, Sri langsung mengurus persyaratan. Tetapi, dia tidak mendapatkan rekomendasi dari Dinas Kesehatan (Dinkes). Sebab, Hasan dikubur di makam umum. Bukan pemakaman khusus pasien Covid-19.

Sri menganggap, pernyataan dari rumah sakit bahwa suaminya meninggal karena Covid-19 sudah cukup. Pernyataan itu yang akhirnya dibawa ke Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya. Sekali lagi, Sri kesandung. Syarat itu tak bisa diterima karena tak ada rekomendasi Dinkes.

Sri yang putus ada pun tak lagi menginginkan bantuan itu. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Yusuf Andriani, seorang pengacara. Dengan sukarela, Yusuf bersedia membantu Sri agar bisa mendapatkan haknya. Sayang, kasus itu tidak diterima oleh PN Surabaya. Hakim mengatakan bahwa ranah gugatan Sri seharusnya di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

“Saya betul-betul tidak mengeluarkan biaya. Semua biaya persidangan sudah dibayarkan oleh pengacara M. Sholeh. Karena, Yusuf bergabung di dalamnya. Rencananya, kami akan membawa kasus ini ke PTUN,” katanya lagi.

Sambil menunggu haknya tersebut, saat ini Sri berusaha mencari pekerjaan. Soal ini, Sri tak mempermasalahkan. Sebab, ia sudah biasa mandiri. Sejak suami pertamanyi tiba-tiba pergi saat Dani masih kecil. Sehingga, Sri harus membesarkan Dani, lelaki kelahiran 1996 itu, sendiri. Sampai besar.

Setelah Dani lulus SMK, Sri mengenal Hasan. Mereka bertemu pada Juli 2019. Pasangan ini lalu menikah pada 5 Januari 2020. Hasan lalu meninggal pada 3 Juli 2020. Artinya, Sri hanya bersama Hasan selama satu tahun. Satu semester sebagai kekasih, satu semester lagi sebagai suami-istri.

Sri pun hanya sekali merayakan ulang tahun Hasan. Yakni pada 27 November 2019. Tahun ini, perayaan ulang tahun itu hanya dirayakan Sri bersama Dani. Sembari mengunjungi makam sang suami. Dan saat Harian Disway ke rumah Sri, kue ulang tahun itu masih ada. ’’Silakan makan, Mas. Ini kue ulang tahun suami saya,’’ ujar Sri. Matanyi berkaca-kaca.

Satu hal yang membuat Sri begitu kalut bukan kesendirian itu. Bukan pula karena ia harus menjanda untuk kali kedua. Tetapi, saat mendapati bahwa dia pun reaktif berdasar hasil tes cepat. Setelah Hasan dimakamkan, Sri melakukan isolasi mandiri. Tanpa ada bantuan dari pemerintah.

Untuk makan, Sri minta tolong tetangga sekitarnya. Lewat pesan singkat atau telepon. Selama hidup, Sri tidak pernah merasakan bantuan pemerintah. Baik di tingkat kelurahan, apalagi di tingkat kota atau provinsi.

Termasuk saat ia terkena kanker saat ini. Sri tak mau mengatakan jenis kankernya. Hanya, tempatnya di leher. Setiap bukan, dia harus kontrol ke rumah sakit. Biaya pemeriksaan penyakit itu tidak sedikit. Untung, Sri ikut BPJS. Dengan iuran yang dia bayar sendiri.

“Mungkin mereka menganggap saya mampu. Karena, memang orang tua saya di sini terkenal memiliki banyak kos-kosan dan kontrakan. Tapi, saya hidup tidak pernah berharap dari mereka. Saya selalu berusaha sendiri,” kata Sri. Yang terang, kini Sri pun tetap berjuang sendiri. Seperti sebagian besar masa hidupnya.

Penulis: Redaksi Analisa

Tags

Related Articles

Back to top button
Close