Hadirkan Untuk Membantu, Saksi Ahli Malah Menjatuhkan

6 April 2021, 00:41

SURABAYA, analisanesw.co Penasihat Hukum (PH) Christian Halim salah menghadirkan saksi ahli. Dalam kasus dugaan perkara penipuan pembangunan infrastruktur tambang. Saksi ahli malah seolah mendukung dakwaan yang diberikan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Menurut jaksa, keterangan para ahli tersebut justru mendukung pasal 378 KUH Pidana yang dijeratkan pihaknya terhadap Christian Halim. Serta bukti yang didakwakan jaksa kepada terdakwa.

Dalam persidangan, Ahli Solahudin menjelaskan pasal 378 KUHP adalah delik materiil murni. Memiliki unsur penipuan ketika tindakan mengandung kepalsuan terjadi. Sehingga, korban tergerak menyerahkan suatu barang.

“Mens rea atau niat jahat menjadi penting dalam pasal ini untuk diperiksa di persidangan. Dan apabila kebohongan itu terjadi didepan, maka itu masuk unsur penipuannya,” kata JPU Novan B Arianto dari Kejati Jatim saat dikonfimasi usai sidang, Senin (5/4).

Sama halnya yang dijelaskan dengan saksi ketiga. Yaitu Puji Karyanto dari Unair Surabaya. Dalam penjelasannya, jaksa menilai tergambar jelas tindak pidana kebohongan yang dilakukan terdakwa. Karena ia menjual nama orang lain sebagai saudaranya. Bahkan, mengaku sebagai ahli tambang.

Padahal, seorang ahli tambang, harus memiliki sertifikat. “Jadi dia menjual nama orang untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Itu sebenarnya bagian dari upaya untuk melakukan kebohongan. Juga ahli tambang. Tapi saat ditanya sertifikatnya, orang tersebut tidak bisa menunjukkan,” katanya lagi.

Namun, keterangan ahli hukum pidana Dwi Seno Wijanarko dari Ubhara Jakarta, dinilai tidak relevan. Sebab, ahli tersebut banyak bicara tentang perdata. “Dengan begitu, kita bisa lihat bersama kapasitas ahli bagaimana,” tegasnya.

Rupanya, ketua majelis hakim Ni Made Purnami juga sadar dengan hal tersebut. Sehingga, dia mempertanyakan kapasitas saksi sebagai ahli pidana. “Anda seorang ahli pidana atau bagaimana?,” tanya hakim.

Belakangan dikatahui, ahli tersebut merupakan seorang jaksa. Tapi, dipekerjakan sebagai dosen. PH  terdakwa kembali menyingung soal pemanggilan saksi Gentha. Namun, jaksa mengaku kalau ia telah memanggil saksi tersebut sebanyak dua kali.

Ni Made Purnami juga menegaskan kalau pihaknya tidak bisa memaksa kehadiran saksi Gentha kembali di persidangan.

“Itu merupakan kewenangan pembuktian ada di jaksa. Pada saat itu saksi pun dihadirkan oleh pihak jaksa. Sedangkan jaksa menilai keterangan saksi sudah cukup. Terlebih sudah ada upaya jaksa untuk memanggil kembali saksi Gentha,” ujarnya.

Mendengar keterangan ketiga saksi tadi, terdakwa enggan berkomentar kepada satupun saksi tersebut. “Tidak saya tanggapi Yang Mulia,” singkatnya.

Seperti yang tertuang dalam dakwaan, terdakwa Christian Halim menyanggupi, melakukan pekerjaan penambangan biji nikel yang berlokasi di Desa Ganda-Ganda, Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Kepada pelapor Christeven Mergonoto (pemodal) dan saksi Pangestu Hari Kosasih, terdakwa menjanjikan untuk menghasilkan tambang nikel 100.000 matrik/ton setiap bulan. Dengan catatan harus dibangun infrastruktur yang membutuhkan dana sekitar Rp 20,5 miliar.

Terdakwa mengaku sebagai keluarga dari Hance Wongkar kontraktor alat berat di Sulawesi Tengah yang akan membantu menyediakan alat berat apabila penambangan berjalan.

Padahal, belakangan diketahui terdakwa tidak memiliki hubungan dengan orang tersebut. Dana sebesar Rp 20,5 miliar yang diminta terdakwa telah dikucurkan. Namun janji tinggal janji, terdakwa tidak dapat memenuhi kewajibannya.

Bahkan menurut perhitungan ahli Teknik Sipil Struktur ITS Ir Mudji Irmawan Arkani MT, terdapat selisih anggaran sebesar Rp 9,3 miliar terhadap hasil proyek yang dikerjakan terdakwa.

Atas perbuatannya, terdakwa dijerat pasal 378 KUHPidana dengan ancaman pidana penjara paling lama empat tahun.

Editor: Redaksi Analisa

Tags

Related Articles

Back to top button
Close