Firman Bantah Keterangan Saksi Didalam Persidangan Kasus Dugaan Membawa Sajam di Aksi Tolak UU Ciptaker

25 February 2021, 09:40

Samarinda, AnalisaNews.co – Sidang perkara dugaan membawa senjata tajam didalam aksi unjuk rasa penolakan Undang-undang (UU) Omnibus Law atau Cipta Kerja (Ciptaker) kembali berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Samarinda, pada Rabu (24/2/2021) sore. Menghadirkan terdakwa Firman Rhamadan yang saat ini sedang ditahan di Rumah Tahanan Klas II A Samarinda, melalui sambungan virtual sebagai pesakitan.

Didalam persidangan dengan agenda pemeriksaan keterangan saksi, kali ini Firman didampingi oleh empat Kuasa Hukumnya. Mereka adalah Fathul Huda, Zaini Afrizal, Bernard Marbun dan Hirson Kharisma. Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum Melati dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Samarinda, menghadirkan dua orang saksi Polisi dari Polresta Samarinda. Keduanya bernama Jon Wahyudi dan Mahrudin.

Disampaikan sebelum persidangan dimulai. Bahwa kedua saksi merupakan aparat kepolisian yang berhasil mengamankan Firman. Dengan dugaan telah membawa sajam pada aksi unjuk rasa berujung ricuh pada 5 November silam.

“Dengan ini, perkara atas dugaan membawa sajam kembali dipersidangkan dan dibuka secara umum,” ucap Ketua Majelis Hakim Edy Toto Purba sembari mengetuk palu persidangan, dengan didampingi Agus Raharjo dan Hasrawati Yunus sebagai hakim anggota.

Saat persidangan baru dimulai, disepakati bahwa kedua saksi dimintai keterangannya secara bergantian. Untuk saksi pertama yang dimintai keterangannya adalah Jon Wahyudi. Oleh majelis hakim, Jon sapaan karibnya, diminta untuk menyampaikan kronologis singkat perihal penangkapan terhadap terdakwa Firman yang diduga membawa sajam.

Jon menyampaikan, bahwa kala itu sedang terjadi aksi unjuk rasa penolakan UU Omnibus Law di DPRD Kaltim Jalan Teuku Umar, Kecamatan Sungai Kunjang. Jon yang kesehariannya bertugas didalam Tim Buser, saat itu kembali ditugaskan oleh atasannya. Untuk mengawasi aksi unjuk rasa yang tengah berlangsung.

“Saya ditugaskan hanya untuk mengawasi adek-adek mahasiswa yang sedang berdemo,” ungkapnya didalam persidangan.

Aksi demonstrasi awalnya berjalan damai, namun ketika waktu memasuki pukul 18.00 WITA, terjadi gesekan antara aparat kepolisian yang sedang bertugas jaga dengan massa aksi. Pasalnya, saat itu massa aksi memaksa menyeruduk masuk kedalam halaman DPRD Kaltim.

Gerbang setinggi empat meter yang sedari tadi tertutup rapat dan dijaga ketat oleh petugas kepolisian, mulai berusaha dirobohkan dengan pendemo. Hingga akhirnya aparat kepolisian terpaksa menyemburkan air dari mobil watercanon. Massa tak begitu saja menyerah. Segala cara dilakukan, agar dapat memasuki areal Kantor Dewan di Karang Paci itu.

Hingga akhirnya, gerbang setinggi empat meter itu nyaris roboh. Polisi langsung mengambil tindakan tegas. Gas air mata ditembakkan ke udara. Akibatnya, masa langsung lari tunggang langgang meninggalkan gerbang. Disisi lain, polisi berpakaian sipil nampak mengambil kesempatan untuk mengamankan satu persatu para peserta aksi yang dianggap bertindak anarkis.

Ditempat terpisah, Firman yang melihat rekannya telah diciduk oleh petugas. Akhirnya tergerak untuk maju bersama lima rekannya. Mereka berusaha menyelamatkan teman-temannya yang sudah tertangkap. Tanpa disadari, dari arah belakang Firman disergap oleh petugas kepolisian bernama Reno. Firman yang diamankan dengan cara dipiting, lalu berupaya melakukan perlawanan.

“Saat diamankan anggota, ada yang terjatuh dari tubuhnya (Firman). Kemudian saya dengar ada yang teriak badik. Lalu saya ambil untuk diamankan, dan saya bawa sambil ikut mengamankan saudara Firman,” terangnya.

Majelis hakim kemudian mempertanyakan jarak antara saksi Jon dengan Firman beserta letak Sajam yang ditemukannya. “Jarak saya saat Firman diamankan anggota, itu persisnya antara saya dengan hakim saat ini. Sekitar tiga sampai empat meter,” jawabnya.

“Benar anda melihat ada senjata tajam yang jatuh dari tubuh saudara Firman,” tanya Ketua Majelis Hakim.

“Benar pak, jadi saat Firman diamankan langsung mau dibawa, tapi meronta. kemudian Sajam itu terjatuh. Saat ada yang teriak (badik) saya amankan, rekan saya sudah berjalan didepan, saya kemudian menyusul sambil mengamankan sajamnya,” jawab Jon.

Lanjut Jon menyampaikan, setelah mendapatkan sajam yang terjatuh tak jauh dari Firman diamankan. Ia dan rekannya Reno, langsung membawa Firman masuk kedalam halaman DPRD Kaltim.

Setelah mendengarkan keterangan saksi, Majelis Hakim kemudian mempersilahkan Kuasa Hukum Firman untuk bertanya kepada saksi Jon. Namun terjadi ketegangan saat tanya jawab ini terjadi diantara mereka.

Singkat musababnya, saat itu Jon yang ditanya oleh salah satu Kuasa Hukum Firman, sempat mengaku bahwa dirinya tak melihat sajam itu terjatuh dari tubuh Firman. Melainkan baru mengetahui ada sajam yang tergeletak diatas jalan, setelah mendengar teriakan dari seseorang.

“Saya tidak melihat jatuhnya, saat itu disekeliling semua anggota (polisi). Kemudian ada yang teriak sajam. Lalu saya amankan. Dan membantu rekan saya Reno sambil mengamankan Firman masuk ke halaman DPRD,” ucap Jon ketika didesak Kuasa Hukum Firman.

“Berarti anda tidak bisa memastikan bahwa sajam itu milik Firman,” timpal Hirson Kharisma Kuasa Hukum Firman.

Namun Jon kembali menjawab dan memastikan bahwa sajam tersebut milik terdakwa Firman. “Karena jatuhnya itu dibawah saat Firman diamankan,” tegas Jon.

Lagi-lagi, Hirson kembali menegaskan pernyataan Jon yang saat itu tengah memberikan kesaksiannya. “Bagaimana anda bisa memastikan, kalau anda saja tidak melihat kalau sajam itu benar-benar terjatuh dari badan Firman,” tanya Hirson dengan tegas.

“Disekeliling itu tidak ada orang lain, hanya ada anggota (Polisi). Dan ditemukannnya sajam saat saudara Firman diamankan dan berusaha melawan,” tegas Jon lagi.

“Iya bagaimana anda bisa memastikan, bisa saja sajam itu dari polisi. Polisi menggunakan narkoba saja bisa,” timpal Hirson lagi.

Ditengah ketegangan yang terjadi, Ketua Majelis Hakim langsung menengahi keduanya dengan memberikan sejumlah pertanyaan kepada saksi Jon.

“Jadi saudara saksi melihat tidak saat Sajam itu jatuh dari tubuh terdakwa,” tanya Ketua Majelis Hakim.

“Saya tidak melihat persis jatuhnya dari tubuh Firman. Tapi melihat ada yang jatuh saat Firman diamankan. Dan ada yang teriak ‘badik’,” jawab Jon.

“Yang Mulia, saya mau menegaskan, Bahwa apa yang disampaikan saksi dengan yang tertera di BAP (Berita Acara Pemeriksaan) ini berbeda. Di Sini saksi menyatakan tidak melihat (sajam) jatuh dari badan Terdakwa. Sedangkan di BAP saksi menyatakan melihat badik jatuh dari badan terdakwa,” tegas Zainal Kuasa Hukum terdakwa Firman, ketika meminta tanggapan dari Ketua Majelis Hakim.

Setelah mendengarkan pernyataan saksi, Ketua Majelis Hakim langsung kembali mengoreksi keterangan yang ada didalam Barita Acara Pemeriksaan (BAP). Disebutkan bahwa saksi Jon yang telah dimintai keterangannya didalam BAP, pada point kelima memberikan kesaksian, bahwa melihat sajam jatuh dari tubuh Firman ketika diamankan.

“Ini keterangan anda di dalam BAP benar atau tidak,” tegas Ketua Majelis Hakim.

“Benar yang mulia,” timpal Jon.

“Jadi yang mana, yang benarnya. Melihat (Sajam jatuh dari tubuh Firman) langsung atau tidak,” tanya Ketua Majelis Hakim lagi.

“Saya lupa pak Hakim, karena itu sudah lama sekali,” ucap Jon sembari memastikan bahwa keterangannya didalam BAP adalah benar adanya.

“Jadi keterangan sama seperti yang ada didalam BAP ya,” tanya ketua Majelis Hakim.

“Siap yang mulia, benar,” jawab Jon kembali.

Setelah mendengarkan keterangan dari Saksi Jon. Ketua Majelis Hakim kemudian memberikan kesempatan kepada terdakwa Firman untuk menanggapi atas kesaksian yang disampaikan oleh saksi.

“Terdakwa, bagaimana tanggapannya ? Apa kah benar, dengan apa yang telah disampaikan saksi,” kata Ketua Majelis Hakim.

“Tidak benar yang mulia,” jawab Firman.

“Terdakwa membantah, jadi apa yang disampaikan saksi tidak benar ya,” tanya Ketua Majelis Hakim kepada terdakwa Firman lagi.

“Iya, Yang Mulia,” jawab Firman.

“Bagaimana saksi, apakah masih sama dengan apa yang telah disampaikan tadi?,” Tanya Ketua Majelis Hakim kepada saksi Jon.

“Tetap sama yang mulia,” Tutup Jon yang memilih tidak ingin menambahkan pernyataan lagi diruang sidang.

Setelahnya, giliran saksi Mahrudin yang dimintai keterangan oleh Majelis Hakim. Singkat cerita, Mahrudin yang kala itu ditugaskan untuk mengawasi jalannya aksi, mengaku sangat jelas melihat ada sajam yang terjatuh dari tubuh Firman ketika sedang diamankan oleh petugas bernama Reno.

“Saat diamankan, saudara Firman meronta. Kemudian saya melihat ada sajam terjatuh dari tubuhnya. Ada di sebelah kiri. Jatuhnya itu kedepan,” ungkap Mahrudin menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim.

“Posisi saya saat itu sejauh lima sampai empat meter, didepan Firman yang diamankan anggota (polisi),” sambungnya.

Lanjut Mahrudin menerangkan, setelah sajam terjatuh dari tubuh Firman. Ia melihat saksi Jon langsung mengamankan sajam yang terjatuh itu.

“Saat diamankan, sarungnya sajam terjatuh. Lalu saya yang ambil. Kemudian saya bawa, saya kasihkan ke Jon untuk dibawa ke dalam halaman DPRD Kaltim,” tegasnya.

Namun pernyataan dari Mahrudin itu lagi-lagi dibantah oleh terdakwa Firman, ketika diberikan kesempatan untuk menanggapi oleh Ketua Majelis Hakim.

“Tidak benar yang mulia,” tegas Firman.

“Bagian mana yang tidak benarnya,” tanya ketua Majelis Hakim.

“Saya tidak melihat ada saksi saat saya diamankan,” singkat Firman.

“Saudara saksi masih dengan keterangan yang sudah disampaikan tadi,” ucap Ketua Majelis Hakim ketika kembalo melemparkan pertanyaan kepada Mahrudin.

“Siap, tetap sama yang mulia,” tegas Mahrudin.

Setelah mendengarkan keterangan dari kedua saksi, sidang pun ditutup dan akan kembali dilanjutkan pada Rabu (3/3/2021) mendatang. Masih dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. Namun sebelum Ketua Majelis Hakim menutup persidangan, kuasa hukum terdakwa sedikit menyampaikan pernyataan.

“Hanya ingin menyampaikan, bahwa kita menilai keterangan saksi ini dari fakta persidangan. Jadi apa yang disampaikan didalam persidangan, itu yang kita dengarkan. Bukannya mempertegas keterangan dengan apa yang ada didalam BAP,” tutup Fathul Huda Kuasa hukum terdakwa.

“Baik, sidang kita lanjutkan Rabu depan. Dengan agenda pemeriksaan keterangan saksi, sidang ditutup,” tandas Ketua Majelis Hakim sembari mengetuk palu persidangan.

Ditemui usai persidangan, Fathul Huda kuasa hukum terdakwa menyampaikan, bahwa saksi sangat plin plan saat memeberikan keterangan. “Kami pun percaya, dan menganggap bahwa sajam itu benar-benar bukan milik terdakwa,” ungkapnya.

Selain itu, ia menyayangkan tindakan Ketua Majelis Hakim yang terkesan tidak netral. Pasalnya, pada saat saksi Jon menyampaikan tidak melihat sajam terjatuh dari tubuh terdakwa Firman. Ketua Majelis Hakim justru menegaskan kepada saksi agar tetap menyampaikan keterangan seperti yang ada didalam BAP.

“Makanya saya sampaikan diakhir tadi, bahwa fakta persidangan itu adalah apa yang disampaikan didalam persidangan. Bukannya dari BAP,” pungkasnya. (Tim Redaksi Analisa)

Tags

Related Articles

Back to top button
Close