Tekan Enter untuk mencari

Rabu, 17 Juni 2026

FIFA Didesak Pindahkan Piala Dunia 2026 dari AS ke Inggris

Redaksi
Diterbitkan Minggu, 18 Januari 2026 09:14 WITA
Trofi Piala Dunia

AMERIKA – Desakan kepada FIFA untuk mengevaluasi status Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026 kian menguat.

Mantan presenter Sky Sports, Jeff Stelling, secara terbuka menyarankan agar turnamen sepak bola terbesar dunia itu dipindahkan ke Inggris, menyusul dinamika politik dan kebijakan kontroversial Presiden AS Donald Trump yang dinilai berpotensi mengganggu penyelenggaraan ajang tersebut.

Piala Dunia 2026 sejatinya akan digelar pada Juni hingga Juli 2026 dengan format tiga negara tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Namun, ketidakpastian mulai muncul seiring berbagai kebijakan luar negeri dan domestik AS yang dinilai dapat berdampak pada keamanan, mobilitas tim, serta kelancaran turnamen.

Amerika Serikat dijadwalkan menjadi lokasi mayoritas pertandingan, dengan 78 dari total 104 laga digelar di 11 kota, termasuk Atlanta, Los Angeles, Miami, hingga New York/New Jersey.

Laga final pun direncanakan berlangsung di Stadion MetLife, New Jersey, pada 19 Juli 2026.

Meski waktu penyelenggaraan semakin dekat, kritik terhadap kesiapan AS sebagai tuan rumah terus bermunculan.

Dalam beberapa pekan terakhir, AS tercatat melakukan sejumlah operasi militer di luar negeri serta mengeluarkan kebijakan pembatasan perjalanan dan visa yang berdampak pada warga dari puluhan negara.

Kondisi ini memicu kekhawatiran akan akses masuk bagi pemain, ofisial, maupun suporter dari berbagai negara peserta Piala Dunia.

Jeff Stelling menilai situasi tersebut cukup serius hingga layak dijatuhi sanksi.

Ia bahkan menyebut pencabutan status tuan rumah AS sebagai opsi yang patut dipertimbangkan FIFA.

Menurutnya, Inggris bisa menjadi alternatif yang realistis dan siap secara infrastruktur maupun pengalaman.

“Saya sepenuhnya setuju. Sejujurnya, mereka harus mempertimbangkan alternatif seperti Inggris,” ujar Stelling.

Desakan serupa juga datang dari ranah politik Inggris.

Sebanyak 23 anggota parlemen dari empat partai-Partai Buruh, Liberal Demokrat, Partai Hijau, dan Plaid Cymru-menandatangani mosi yang menyerukan badan olahraga internasional untuk mempertimbangkan pengusiran AS dari ajang olahraga global, termasuk Piala Dunia.

Mereka menilai turnamen besar tidak boleh dijadikan sarana melegitimasi pelanggaran hukum internasional oleh negara kuat.

Kebijakan pembatasan visa AS turut menjadi sorotan, terutama setelah beberapa negara yang warganya terdampak larangan perjalanan justru telah memastikan diri lolos ke Piala Dunia 2026.

Pemerintahan Trump bahkan dilaporkan memperluas daftar negara dengan pembatasan visa, yang mulai berlaku pada akhir Januari 2026.

Inggris sendiri terakhir kali menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 1966, yang juga menjadi momen bersejarah dengan keberhasilan timnas Inggris meraih satu-satunya gelar juara dunia mereka.

Setelah itu, Inggris hanya menjadi tuan rumah turnamen tingkat regional seperti Euro 1996 dan Euro 2020.

Dalam sejarah Piala Dunia, pemindahan tuan rumah memang jarang terjadi.

Salah satu contohnya adalah Piala Dunia 1986, yang awalnya direncanakan digelar di Kolombia sebelum akhirnya dipindahkan ke Meksiko akibat kendala ekonomi.

Hingga kini, FIFA belum memberikan pernyataan resmi terkait desakan pemindahan tuan rumah Piala Dunia 2026.

Namun, tekanan dari tokoh media, politisi, dan komunitas internasional diperkirakan akan terus meningkat seiring mendekatnya kick-off turnamen.

Bagikan
berita terkait