Easycash dan FinPlus Kenalkan Fintech ke Mahasiswa Universitas Palangkaraya

18 March 2021, 21:39

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) telah menerbitakan Peraturan Presiden (Perpres) nomor 114/2020. Aturan itu tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI). Agar target inklusi keuangan pada 2024 tercapai 90 persen.

Pemerintah memang  sedang getol untuk mengejar target itu. Agar kualitas hidup masyarakat Tanah Air meningkat. Apalagi dalam masa pandemi Covid-19. Inklusi keuangan ini memang menyasar pada masyarakat yang memiliki perekonomian rendah.

Karena itu, dengan hadirnya hadirnya finansial teknologi (fintech) diharapkan dapat menjadi alternatif solusi untuk membantu mencapai target inklusi keuangan tersebut. Tentunya platform fintech P2P lending itu harus terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

CEO Easycash Fitri saat memberikan materi kepada mahasiswa

Seperti PT Indonesia Fintopia Technology (Easycash) dan PT Rezeki Bersama Teknologi (FinPlus). Kedua platform ini Kamis (18/3) melakukan talk show dengan mahasiswa Universitas Palangkaraya. Tentunya secara daring.

Mereka mengenalkan industri fintech peer to peer (P2P) lending. Serta memberikan pemahaman tentang inovasi yang dilakukan fintech. Sehingga terus mendorong inklusi keuangan selama masa pandemi.

“Kami sangat berharap kehadiran industri fintech P2P lending mampu meningkatkan pengetahuan terkait layanan keuangan berbasis digital. Juga membuka akses finansial ke seluruh lapisan masyarakat melalui model bisnis fintech lending,” kata Kokko COO FinPlus Cattaka.

Sementara itu, menurut CEO Easycash Fitri data di OJK terkait pinjaman fintech P2P lending telah mencapai Rp 128,7 triliun. Angka tersebut hingga kuartal III pada 2020. Nilai itu tumbuh dari posisi tahun lalu yang hanya Rp 44,8 triliun.

Hal ini membuktikan bahwa industri P2P lending turut mendorong dan menggerakkan perekonomian negara. Kenaikan pesat penyaluran pinjaman P2P lending ini tak lepas dari peningkatan jumlah akun peminjam (borrower).

Juga pemberi pinjaman (lender), dengan pengguna aktif rentang usia produktif 19-34 tahun. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian berharap stakeholders terkait mampu menjaga tren pertumbuhan positif ini. Sehingga, industri ini dapat terus berinovasi.

“Dengan adanya edukasi daring ini, kami juga berharap masyarakat Palangka Raya dapat memanfaatkan layanan produk P2P lending. Tentu untuk kebutuhan dalam menghadapi masa pandemi. Tapi tetap waspada terhadap fintech ilegal,” jelasnya.

Sampai September 2020 lalu, total 126 platform fintech lending ilegal telah ditutup oleh OJK. Acara yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa Universitas Palangka Raya. Mereka sangat antusias mengikuti talk show ini.

Editor: Redaksi Analisa

Tags

Related Articles

Back to top button
Close