Datangi Pernikahan Mantan Ditjen Pajak, Wartawan Tempo Dipukuli

29 March 2021, 15:09

SURABAYA, analisanews.coKekerasan terhadap wartawan kembali terjadi. Kali ini menimpa jurnalis Tempo Nurhadi. Saat itu ia sedang menjalankan tugas untuk meminta komentar mantan Direktur Pemeriksaan Ditjen Pajak Kemenkeu Angin Prayitno Aji. Terkait kasus suap yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi.

Ketika itu sedang ada acara pernikahan anaknya dengan anak Kombes Pol Ahmad Yani. Mantan Karo Perencanaan Polda Jatim. Namun kedatangannya dikira untuk melakukan peliputan acara tersebut. Padahal, ia sudah menjelaskan kalau bukan itu tujuannya mendatangi tempat itu.

Dirinya sempat dibawa ke Polres Tanjung Perak. Hanya saja, berbalik arah kembali ke tempat acara. Belum saja turun dari mobil, pukulan sudah melayang ke Nurhadi. Bahkan salah satu ajudan Angin sempat mengancam dengan memberikan pilihan. Yaitu UGD atau kuburan.

Penyiksaan itu terjadi selama dua jam. Tindakan itu lalu dilapor kepada Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Jatim, Minggu (28/3), pukul 13.30 WIB. Ia datang perwakilan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya dan beberapa lembaga bantuan hukum.

Sekitar pukul 16.45 WIB, ia keluar ruangan dengan membawa surat laporan nomor LP-B/176/III/RES.16/2021/UM/SPKT. Kemudian lanjut untuk proses visum di RS Bhayangkara Polda Jatim. Ketua AJI Surabaya Eben Haezer Panca mengatakan, tindakan tersebut dinilai sudah mengancam nyawa jurnalis.

“Kami mengecam aksi kekerasan ini dan mendesak aparat penegak hukum untuk profesional menangani kasus ini. Apalagi mengingat bahwa sebagian pelakunya adalah aparat penegak hukum,” kata Eben, saat ditemui di Polda Jatim.

Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim Ainur Rohim menyesalkan atas kejadian yang menimpa jurnalis Tempo itu. Serta sangat mengutuk kejadian kekerasan yang dialami Nurhadi dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Ia juga mengingatkan kepada semua kalangan, kalau profesi wartawan dalam menjalankan tugasnya dilindungi oleh undang-undang. Juga ada kode etik jurnalistik.

“Kejadian kekerasan yang dialami Nurhadi adalah bentuk ancaman terhadap hal-hal lebih prinsip dalam kehidupan pers nasional. Yakni ancaman terhadap kebebasan dan kemerdekaan pers,” tegasnya.

Ia meminta agar penegak hukum dapat mengusut tuntas kasus ini. serta pelakunya mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. “Rekan-rekan wartawan dan pengelola media massa tetap mengedepankan proses hukum. Serta mengawal kasus ini hingga tuntas,” tambahnya.

Sedangkan koordinator Kontras Surabaya Rachmat Faisal mengungkapkan kalau, kekerasan terhadap para jurnalis kerap kali terjadi. Hal itu menunjukkan kalau lemahnya polisi dalam memberikan perlindungan terhadap para pekerja jurnalistik ini.

“Polisi juga gagal mengimplementasikan Perkap Nomor 8 tahun 2009 mengenai implementasi HAM dalam tugas-tugasnya,” katanya. Dalam kasus ini, ia berharap oknum yang melakukan kekerasan tersebut tidak hanya dikenakan pasal 170 KUHP mengenai kekerasan.

Tapi juga pasal 18 ayat 1 Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 tentang tindakan yang menghambat atau menghalangi kegiatan jurnalistik. Lalu Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan, dan Pasal 355 KUHP terkait penganiayaan berat yang dilakukan terencana.

Editor: Redaksi Analisa

Tags

Related Articles

Back to top button
Close