Christian Akui Menggunakan Dana di Luar RAB

7 April 2021, 01:03

SURABAYA, analisanews.co Sudah banyak saksi yang diperiksa. Kini, giliran terdakwa Christian Halim yang diperiksa. Dalam persidangan dugaan perkara penipuan pembangunan infrastruktur tambang senilai Rp 20 miliar, di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (6/4).

Sidang itu diketuai oleh Ni Made Purnami. Tapi, dalam keterangan terdakwa, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Novan B Arianto menilai kalau unsur dalam dakwaan malah terpenuhi. Padahal, seharusnya keterangan terdakwa menjadi pertimbangan untuk memberikan keringanan hukuman.

Dalam penjelasannya, terdakwa mengakui, kalau dirinya mempergunakan dana milik pelapor. Guna memenuhi kebutuhan diluar ketentuan Rencana Anggaran Biaya (RAB) proyek infrastruktur, yang sebelumnya sudah disepakati.

“Saat pengerjaan, saya menghadapi 10 kali kendala di lapangan. Setiap kendala tersebut membutuhkan dana penyelesaian yang saya ambilkan dari RAB. Total dana yang saya gunakan dari penyelesaian 10 kendala tersebut sekira Rp1 miliar,” kata Christian.

Terdakwa sempat melakukan upaya audit mandiri. Hal itu dilakukan untuk menjawab tuduhan pemodal. Yaitu harga yang ditentukan terdakwa terlalu besar dari harga pasaran pada umumnya. Sehingga, untuk mendukung hasil auditnya tersebut, tersangka tidak pernah menyerahkan laporan.

“Saya belum memberikan laporan pengeluaran ke pelapor maupun Gentha. Berupa invois pembelian materi atau laporan lainnya. Tidak sempat. Waktunya tidak cukup. Saya udah terlanjur dilaporkan ke polisi,” ujarnya.

Termasuk pengalamannya dibidang pertambangan. Semua palsu. Proyek di Morowali, Sulawesi Tengah itu merupakan proyek pertamanya dibidang tersebut. Kalau target tambang 100 ribu metrik per ton itu merupakan kesepakatan antar pihak.

Sehingga, ia menilai kalau target itu bukan menjadi kewajiban yang harus didapatkan. Hanya menjadi tujuan akhir dari proyek tadi. “Walaupun nanti kenyataannya tidak mampu, tapi tidak ada pinalti,” singkatnya.

Terkait Hance Wongkar, terdakwa mengaku kantornya satu gedung dengan orang tersebut. Tapi ia mengakui keduanya masih ada hubungan keluarga. “Ada. Tapi saya tidak pernah menyampaikan secara langsung. Mungkin mereka yang mempersepsikan,” jawab terdakwa.

Sementara itu, Jaksa Novan mengungkapkan kalau awal sidang sebenarnya terdakwa sudah mencabut keterangannya. Yang ia berikan dalam Berkas Pemeriksaan Perkara (BAP) kepolisian.

“Jelas, pengakuan terdakwa terkait penggunaan dana diluar peruntukan RAB yang sebelumnya telah ditentukan. Sehingga dampaknya membuat proyek infrastruktur tersebut tidak bisa terselesaikan, yang saat ini menjadi persoalan,” ujarnya.

Ulah terdakwa tersebut dinilai telah memenuhi unsur dalam pasal 368 KUHP yang dijeratkan. “Menjadi bagian keadaan palsu dari unsur penipuan. Bahkan bisa juga diformulasikan sebagai bagian dari tindak pidana penggelapan. Karena ia menerima dana tapi tidak digunakan sebagaimana mestinya alias diluar ketentuan,” terangnya.

Terdakwa beralasan, pengalihan dana tersebut dilakukan lantara desakan dari pelapor dan Gentha. Keduanya meminta agar segera mendapatkan hasil tambang. Namun, keterangan itu merupakan jawaban sepihak yang diberikan terdakwa.

Pasalnya, selama persidangan berlangsung, terdakwa tidak pernah menghadirkan saksi yang mendukung pernyataan tersebut. Malah, saksi hanya diajukan oleh JPU. Pun termasuk saksi ahli yang dihadirkan malah makin memberatkan terdakwa. “Untuk itu kami berkesimpulan semua pasal yang kami dakwakan unsur-unsurnya terpenuhi,” tambah jaksa.

Terpisah, Malvin Lim, penasehat hukum terdakwa saat dikonfirmasi mengakui bahwa keterangan terdakwa menurut KUHAP memang tidak ada nilainya.

“Terdakwa berbohong pun boleh. Menurut pasal 184 KUHP, keterangan terdakwa merupakan sebagai satu alat bukti. Apa yang disampaikan terdakwa dalam persidangan, biar majelis hakim yang menilai. Ada persesuaian atau tidak dengan keterangan saksi-saksi yang lain,” ujarnya.

Atas perbuatannya, terdakwa dijerat pasal 378 KUHP. Dengan ancaman pidana penjara paling lama empat tahun. Sidang dilanjutkan Kamis (8/4/2021) mendatang, dengan agenda pembacaan berkas tuntutan oleh JPU.

Editor: Redaksi Analisa

Tags

Related Articles

Back to top button
Close