Bayar Orang untuk Buat LP

11 April 2021, 19:52

SURABAYA, analisanews.co – Waluyo marah. Tanah warisan milik orangtua-nya dirampas orang. Bahkan, tanah tersebut Rabu (7/4) telah disegel Polda Jatim. Padahal, ia tidak pernah menjual tanah tersebut. Penyegelan tersebut dilakukan oleh Lisa Associates.

Dia dibantu oleh oknum Polisi. Yaitu Kompol Kholil, AKP Supriyana, AIPDA Yudi Sutanto. Mereka diketahui dari Unit satu Subdit III Jatanras Ditreskrimmum Polda Jatim. Sebidang tanah tersebut berada di Jalan Pandigiling, nomor 125, Surabaya.

Tanah tersebut diklaim Fanny berdasarkan Surat Hak Guna Bangunan (SHGB) 1188, SHGB 1189 dan Sertifikat Hak Milik (SHM) 752. Penyegelan sebidang tanah tadi berdasarkan surat laporan polisi nomor LPB/62/II/2021/UM/Jatim. Atas nama pelapor Carlesto Josafat.

Waluyo mengatakan informasi yang ia dapatkan, Kompol Kholil dan Lisa membayar Carlesto Josafat Rp 1 juta. Uang tersebut diberikan untuk menandatangani laporan tersebut di Polda Jatim. Padahal, Carlesto tidak mengetahui apapun tentang laporan tersebut.

Tapi, laporan tersebut juga sudah dicabut Carlesto. Pencabutan laporan tersebut dilakukan pada 1 Februari 2021. Bahkan, dalam surat pencabutan tersebut, Carlesto jelas mengungkapkan kalau dirinya hanya dibayar untuk melakukan penandatanganan surat laporan tersebut.

“Mestinya jangan seperti ini (penyegelan). Kalau gini kan sepihak namanya. Itu LP rekayasa. Lagipula, LP itu sudah dicabut. Kalau memang polisi itu milik rakyat jangan arogan gitu. Ayo gelar perkara. Jangan sepihak bela Lisa,” kata Waluyo, Jumat (9/4).

Pun Waluyo sebagai alih waris menegaskan kalau SHM yang dimiliki Fanny palsu. Ia sudah pernah melayangkan keberatan atas penerbitan sertifikat tersebut. Namun dirinya malah disogok. Serta mendapatkan ancaman. Tak hanya itu, ia juga pernah dikabarkan telah meninggal dunia.

Padahal, dirinya saat itu sedang bekerja diluar kota. Saat istrinya meninggal barulah ia kembali ke Surabaya. Namun, betapa kagetnya ia saat melihat rumah orang tuanya telah rata dengan tanah. Karena itu, ia memutuskan memperjuangkan hak keluarganya.

“Indonesia negara hukum. Nggak perlu kita aduh otot. Kita aduh data saja. Tapi, harus jelas asal usul perolehan tanah itu darimana. Jangan BPN 1 jadi kambing hitam, karena ulah oknum yang melakukan rekayasa SHM itu,” tegasnya.

Belakangan juga beredar video yang menjelaskan pengakuannya Carlesto. Dalam video berdurasi 2 menit 50 detik itu Carlesto menjelaskan kalau dirinya dibawa Pengacara Lisa ke Polda Jatim untuk membuat Laporan Polisi.

Bahkan ia membenarkan kalau dirinya diberikan uang Rp 1 juta untuk buat Laporan Polisi. Dengan memberikan keterangan palsu adanya pengerusakan atau pengeroyokan. Namun ia sadar kalau dirinya dijebak dan diperalat. Karena itu ia mencabut laporan tersebut.

“Saya waktu itu mendatangi Unit 1 Subdit III Jatanras Ditreskrimmum Polda Jatim. Saya datang membawa surat pernyataan pencabutan laporan polisi yang pernah saya buat. Saya sadar kalau perbuatan saya itu salah,” katanya saat dikonfirmasi media ini, Sabtu (10/4).

Nomor LP yang telah dicabut tersebut, sama persis dengan nomor LP yang dijadikan dasar untuk melakukan penyegelan tanah di Jalan Pandigiling milik Waluyo.

Sementara itu, Kompol Kholil saat ditemui di Jalan Pandigiling, saat sedang melakukan penyegelan mengatakan, kalau LP tersebut belum pernah dicabut. Sehingga, LP tersebut dijadikan dasar untuk melakukan pemasangan Police Line di jalan masuk lokasi tanah itu.

“Saya itu sudah sesuai SOP. Makanya kita buat seperti ini agar permasalasahan tidak melebar. Lagian ini masih penyidikan. Belum bisa diliput. Itu kan semua sudah diatur dalam undang-undang keterbukaan informasi,” katanya, Rabu (7/4).

Namun sayang, Lisa Rahman yang ada dilokasi saat itu enggan untuk berkomentar. Dia bahkan terus menghindar.

Editor: Redaksi Analisa

Tags

Related Articles

Back to top button
Close