Tekan Enter untuk mencari

Sabtu, 4 April 2026

AS Ajukan Proposal 15 Poin ke Iran, Buka Peluang Gencatan Senjata

Redaksi
Diterbitkan Rabu, 25 Maret 2026 09:56 WITA
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump

TEHERAN – Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengirimkan proposal berisi 15 poin kepada Iran sebagai upaya meredakan konflik yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Laporan mengenai proposal tersebut pertama kali muncul pada Selasa (24/3/2026).

Dokumen itu memuat sejumlah tuntutan utama, termasuk pembatasan ketat terhadap program nuklir Iran serta pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Media The New York Times, mengutip dua pejabat yang mengetahui pembahasan tersebut, menyebutkan bahwa proposal itu disampaikan melalui Pakistan yang menawarkan diri menjadi mediator.

Sementara itu, media Israel Channel 12 melaporkan bahwa kedua negara berencana menyepakati gencatan senjata selama satu bulan.

Masa penghentian konflik itu akan dimanfaatkan untuk membuka jalur negosiasi lanjutan berdasarkan proposal yang telah diajukan.

Salah satu poin utama dalam proposal tersebut adalah penghentian pengayaan uranium di wilayah Iran.

Teheran juga diminta menyerahkan seluruh material uranium yang telah diperkaya karena dinilai berpotensi dikembangkan menjadi senjata nuklir.

Selain itu, Iran diminta membuka kembali akses tanpa hambatan di Selat Hormuz.

Jalur laut strategis tersebut menjadi pintu keluar utama menuju Teluk dan dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Blokade parsial yang sebelumnya dilakukan Iran dilaporkan memicu lonjakan harga energi global.

Sebagai imbalannya, Iran disebut akan memperoleh penghapusan seluruh sanksi yang selama ini dikenakan oleh Barat.

Selain itu, Iran juga ditawarkan bantuan untuk pengembangan program energi nuklir sipil, termasuk di fasilitas nuklir Bushehr.

Fasilitas Bushehr sendiri sebelumnya sempat disebut sebagai salah satu lokasi yang diduga menjadi target serangan Israel.

Hingga kini, Gedung Putih maupun Departemen Luar Negeri Amerika Serikat belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.

Presiden AS Donald Trump pada hari yang sama menyatakan optimismenya terhadap kemungkinan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.

Pernyataan itu muncul setelah AS bersama Israel melancarkan serangan besar ke Iran pada 28 Februari 2026.

Serangan tersebut diawali dengan pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang kemudian memicu serangan balasan dari Iran.

Meski demikian, proposal 15 poin yang diajukan Washington tidak mencantumkan rencana perubahan rezim di Iran.

Beberapa minggu sebelumnya, pemerintah Iran juga dilaporkan menindak keras gelombang protes besar di dalam negeri yang menewaskan ribuan orang. (*)

Bagikan
berita terkait